KALIMANTANSATU.COM - Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan adalah nama yang menunjukkan hari Rabu terakhir bulan Safar dalam penanggalan Hijriyah.
Tradisi Rebo Wekasan berlangsung turun-temurun, yang tumbuh dan berkembang kalangan sebagian besar masyarakat Jawa, Sunda, Madura dan lainnya.
Lazimnya, pada masuk Rabu terakhir di bulan safar masyarakat menunaikan sholat dan memanjatkan doa saat Rebo Wekasan.
Bertujuan unutk meminta keselamatan dari berbagai bencana, malapetaka, marabahaya dan malapenyakit.
Namun, bagaimanakah asal asal Rebo Wekasan itu ? Yuk Sahabat Generasi Emas Kalimantan Satu baca sampai habis !
Dilansir Kalimantan Satu dari jabar.nu.or.id, tradisi ini terjadi dibulan safar terletak setelah bulan Muharram dan sebelum bulan Rabiul-Awwal. Sebagian orang Arab menyebut bulan Safar dengan sebutan najiz, mereka merasa sial (-tasya’um) dengan bulan tersebut. Oleh karena itulah datang hadits Nabi sebagai bantahan kepada mereka.
“Tidak ada 'adwa (penularan penyakit), thiyarah (menganggap sial), hamah, shafar, dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa.”(HR Bukhari dan Muslim)
Sedangkan hari Rabu, adalah nama salah satu hari dalam seminggu.
Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang awal hari dalam seminggu, namun menurut As-Suyuthi para ulama mutaakhirin dan ashab Syafi’i mengatakan bahwa yang benar permulaan hari dalam seminggu adalah Sabtu sebagaimana dalam Syarah al-Muhadzab, al-Rawdhah, dan al-Minhaj, dengan didasarkan pada Hadits dari Imam Muslim dimana Allah SWT menciptakan tanah pada hari Sabtu dan menciptakan nur pada hari Rabu.
Pada hari itu orang-orang merasa sial, hal ini berdasarkan pada firman Allah dalam Surat al-Qamar Ayat 19, dan ini adalah sebuah kesalahan, karena sesungguhnya Allah telah berfirman di Surat Fussilat Ayat 16, bahwa itu adalah delapan hari, dan itu merupakan hari-hari kesialan, hanya saja maksudnya adalah bagi mereka (kaum ‘ad). (Jalaluddin As-Suyuthi, ¬al-Syamarikh fi ‘ilm al-Tarikh, h. 24-25).
Karena itulah mengapa para ulama dalam beberapa karyanya senantiasa menyandingkan kata Safar dengan kata al-khair dengan menyebut shafar al-khair (Safar yang baik) sebagai bentuk tafa’ul (berharap kebaikan dan optimis) sehingga dapat menepis anggapan kekhususan kesialan, nahas, atau hal keburukan lainnya yang melekat dengan bulan Safar.
Dalam tafsir Ruhul Ma'ani misalnya disebutkan bahwa hari Rabu adalah hari dimana Nabi Yunus dilahirkan, begitu juga dengan Nabi Yusuf, dan pertolongan kepada Nabi Muhammad pada perang Ahzab juga adalah hari Rabu.
Karena dalam makna waktu tersebut, dijelaskan dalam hadist sebagai berikut.