Alasannya adalah warna merah muda, karena warnanya yang lebih tegas dan kuat, lebih cocok untuk anak laki-laki, sedangkan biru, yang lebih halus dan mungil, lebih cantik untuk anak perempuan.”
Selain itu, Time terbitan tahun 1927 mencatat bahwa department store berskala besar di Boston, Chicago, dan New York menyarankan warna merah muda untuk anak laki-laki.
Namun, tren warna merah muda untuk anak laki-laki ini tidak sebesar sebutan warna untuk jenis kelamin saat ini.
Generasi baby boomer pada tahun 1940-an adalah generasi pertama yang mengenakan pakaian khusus jenis kelamin yang dikenal orang saat ini.
Anak laki-laki dan perempuan berpakaian seperti laki-laki dan perempuan mini, bukannya seragam dalam pakaian anak-anak.
Merah muda menjadi warna anak perempuan, biru menjadi warna anak laki-laki.
Tren pakaian anak-anak ini mengalami penurunan pada pertengahan tahun 1960an dan 1970an karena gerakan pembebasan perempuan.
Orang-orang yang mengambil bagian dalam gerakan ini berpikir bahwa mendandani gadis-gadis muda dengan pakaian feminin atau stereotip “feminin” akan membatasi peluang anak perempuan untuk sukses, dan banyak orang tua mulai menyukai warna dan mode netral.
Namun, pada tahun 1980-an, pakaian anak-anak yang berorientasi gender kembali menjadi mode.
Paoletti menunjuk pada penemuan tes prenatal sebagai penyebab tren ini, karena orang tua dapat mempelajari (dan kemudian menekankan) jenis kelamin bayi mereka sebelum bayi tersebut lahir.
Selain itu, teknologi pencucian pakaian mulai memungkinkan pembersihan dan pemutihan pakaian berwarna tanpa merusak warna pakaian.
Hal ini pula berdampak di negara kita, Indonesia. Banyak orang tua yang ketika kelahiran anaknya dipakaikan pakaian yang begitu pula.
Walaupun tidak sedikit yang memakaikan anak mereka pakaian dengan warna yang netral.
Jadi itulah sahabat alasan kenapa warna pink selalu diidentikkan dengan perempuan dan biru di identikkan oleh laki-laki. Semoga menambah pengetahuan sahabat ya !
(MASREAL BACHRUL ALAM)