Lingkungan sekitar benteng dipadati dengan rumah penduduk, bahkan sisa Bastion (Barat) berada di bawah pondasi rumah warga.
Sangat disayangkan, lokasi bersejarah yang menorehkan Perang Kerajaan Banjar dan sebagai pembuktian kekuatan Kerajaan Banjar mengalahkan Belanda tidak mendapat perhatian yang maksimal.
Melihat lingkungan benteng yang asri dengan rumput gajah di setiap jengkalnya, Benteng Tabanio menjadi objek wisata bagi para masyarakat luar daerah dan para siswa/siswi yang hendak berfoto di lokasi tersebut.
Selain itu, lingkungan sekitar benteng difungsikan sebagai tempat menyimpan ternak.
Beberapa titik gundukan tanah merupakan bekas-bekas Bastion dari Benteng Tabanio.
Berdasarkan informasi, tinggi bastion pada awalnya mencapai kurang lebih tiga meter dengan susunan bata yang saling mengikat dan masih ditemukan sisa-sisa peluru terutama pada Bastion yang berhadapan dengan Laut Jawa (Bastion Barat).
Tidak banyak yang dapat dideskripsikan untuk benteng tersebut, karena kondisinya hampir rata dengan tanah.
Penelusuran sejarah memberi pencerahan mengenai bentuk dari Benteng Tabanio, dengan lukisan tiruan yang disimpan di museum.
Pada lukisan tersebut memperlihatkan desain bagian depan dari Benteng Tabanio.
Kondisi Benteng Tabanio saat ini sudah tertutup oleh tanah dan rumput, serta dikelilingi dengan pemukiman warga.
Di lokasi ini masih dapat ditemukan beberapa tinggalan, diantaranya batu bata dan bekas peluru.
(*)