Proyek ini terbagi dalam dua fase dan menelan nilai investasi sekitar US$1,7 miliar.
Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menyayangkan bangsa Indonesia menjadi negara yang hanya mampu menjadi pengekspor bahan mentah selama ini.
"Kita ini sudah mengekspor bahan mentah lebih dari 400 tahun yang lalu, sejak zaman VOC kita ekspor dulu mulai dari rempah-rempah. Negara yang mengimpor malah sudah menjadi negara maju. Kita yang mengekspor bahan mentah, tidak bisa cepat berkembang. Negara maju sudah betul-betul kecanduan impor. Ketika kita mau hilirisasi pasti diganggu. Untungnya ada resesi, Covid dan mereka negara maju sibuk dengan problem yang mereka miliki," terang Jokowi.
"Inilah kesempatan kita untuk mengolah mineral-mineral yang kita miliki, dan tidak ada yang mengganggu walaupun kita stop nikel. Walaupun uni eropa membawa kita ke WTO. Kemudian Bauksit kita stop, tidak ada yang komplain, tembaga juga kita stop," timpalnya.
Menurut Jokowi, keberhasilan pembangunan smelter PT BAI merupakan buah dari kerjasama yang baik di fase pertama.
Lanjut Jokowi, ini dalam rangka menyongsong Indonesia menjadi negara industri agar tidak menjadi negara yang selalu mengekspor bahan mentah.
"Bisa kita lihat lompatan nilainya. Saya ambil contoh nikel, ekspor mentahan 1,4 - 2 juta dollar, begitu kita stop 34,8 juta Uşdollar. Hampir 60 persen kita miliki sendiri. Kemudian, untuk kebutuhan aluminium dalam negeri 1,6 juta ton 56 persennya kita impor. Oleh karena itu, 56 persen ini nantinya tidak perlu kita impor lagi. Karena devisa kita keluar 3,5 juta dolar hilang gara-gara kita impor alumunium ini," paparnya.
Presiden Jokowi juga bangga ekosistem industri aluminium yang terintegrasi ini selesai untuk fase pertama.
Setelah menjadi Alumina akan dikirim ke muara tanjung untuk diolah menjadi aluminium di PT Inalum.
“Ini perjuangan tak mudah, kita tahu sempat terganggu dengan semangat dan visi yang kuat akhirnya kita selesaikan. Ini merupakan jejak dimulainya industrialisasi di negara kita ini," tandasnya.