Si gembala kecil mulai membayangkan ide jahil.
Menurutnya, pasti lucu kalau dia hanya pura-pura melihat serigala, kemudian menjerit memanggil orang sekampung untuk datang menolong.
Maka dia pun membuka mulut lebar-lebar dan berteriak, “Serigala! Serigala!”
Dalam sekejap, orang-orang pun datang berduyun-duyun, siap melakukan apapun untuk mengusir serigala jahat.
Mereka meninggalkan berbagai pekerjaan penting demi membantu si penggembala.
Tapi yang mereka temukan hanya seorang anak yang sedang terbahak-bahak, merasa berhasil menipu mereka.
Ia sangat geli meihat ekspresi warga yang kaget mendengar ada serigala.
Sadar dikibuli, orang-orang pun bubar dan kembali ke aktivitas mereka.
“Aku hanya mengetes, apakah bila serigala nanti datang mengejar domba, kalian mau membantuku mengusir dia,” alasan penggembala, tanpa merasa bersalah.
Beberapa hari kemudian, dia mengulangi kejadian itu.
Anak penggembala menjerit keras dengan nada panik, “Serigala! Serigala!” Dan lagi-lagi orang sekampung yang baik hati pun segera datang.
Mereka berlari sekencang mungkin agar tidak terlambat memberikan bantuan.
Tapi, sekali lagi, yang mereka temukan bukan serigala sedang menyerang domba-domba.
Melainkan seorang anak penggemaba jahil sedang tertawa puas terbahak-bahak sambil memegang perutnya.
“Oh, kamu mengelabuhi kami,” geram seorang petani.