Keinginan tersebut dikabulkan melalui mimpinya. Ketika Tjakraningrat I kembali ke keraton, Syarifah Ambani menceritakan kepada suaminya, akan tetapi Tjakraningrat I bertanya mengapa Syarifah Ambani hanya meminta hanya sampai keturunan ketujuh.
Beberapa hari kemudian ketika sang suami kembali bertugas ke Mataram untuk membantu Sultan Agung, Ratu Syarifah Ambani kembali ke tempat pertapaannya yaitu ke Desa Buduran.
Dalam pertapaannya, kali ini sang ratu memohon dan memanjatkan doa seperti apa yang diinginkan oleh sang suami yaitu agar menjadikan seluruh keturunannya menjadi pemimpin di Madura.
Siang dan malam Syarifah Ambani memohon terus menerus kepada Allah SWT sambil menangis dan meratapi doa dan dosanya.
Dalam mitologi masyarakat, air mata Ratu Syarifah Ambami terus mengalir sampai membanjiri tempat pertapaannya sehingga membentuk sendang atau sumber air.
Sumber tersebut terletak tak jauh dari area makam.
Itulah mengapa kompleks makam ini disebut kompleks makam Aermata Ebhu.
(Sumber : Laporan Verifikasi Kabupaten Bangkalan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Tahun 2013.
Yulitin Sungkowat,dkk. ( 2011). Antologi cerita Rakyat Jawa Timur. Sidoarjo : Balai Bahasa Surabaya)
Dapatkan update berita pilihan dari Kalimantansatu.com setiap hari. Yuk gabung di Grup Telegram "Kalimantansatu.com News Update". Klik link https://t.me/kalimantansatucomupdate, lalu join. Oh ya, install aplikasi Telegram di ponsel kamu.
(Prabu Warah)