KALIMANTAN SATU - Koreografer asal Kalimantan Tengah, Budi Jaya Habibi, S.Sn atau yang kerab disapa Abib Igal mengadakan Press conference Minggu 18 Desember 2022.
Abib Igal mengudang para pelaku seni dan media untuk memperkenalkan karya yang sedang digarapnya dengan judul "ARUH Healing Nature for Future” dan acara press conference diadakan di Hotel Dadang Tingang Kota Palangkaraya.
Kegiatan ini bertujuan untuk wahana edukasi memperlihatkan proses penciptaan karya
kontemporer, dari pengumpulan data, penemuan ide, kodefikasi materi artistik,
proses pembentukan karya, hingga pertunjukan.
Baca Juga: Temukan Kesimpulan yang Tepat, Pahami Materi beserta Contoh Soal TIU CPNS 2023 tentang Tes Silogisme
Abib membeberkan setiap langkah yang diambil dalam pengerjaan karya ini. Pada kegiatan ini juga abib membuka ruang diskusi kepada pelaku seni tari, mahasiswa seni, dan praktisi
sanggar/komunitas budaya yang ada di Kota Palangka Raya.
Harapannya dengan diadakannya progres sharing dan diskusi karya ini dapat menjadi pintu
masuk ke pertunjukan sesungguhnya di bulan Januari.
"ARUH Healing Nature for Future” sediri adalah sebuah pertunjukan karya seni kontemporer berbasis nilai-nilai tradisi, bagian dari Program Dana Indonesiana kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Perseorangan, melalui Direktorat Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Abib Igal menyampaikan jika karya tersebut merupakan hasil riset artistik dari Ritual Wadian Dadas di Kabupaten Barito Timur provinsi Kalimantan Tengah dan Ritual Balian di wilayah Meratus di Kalimantan Selatan.
Abib Igal yang memprakarsai karya ini merupakan seorang Koreografer Nasional Indonesia lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang berasal dari Kalimantan Tengah.
Dengan begitu banyak persoalan lingkungan yang muncul akibat perspektif
antroposentris yang memusatkan aktivitas pada pemenuhan kebutuhan
manusia, karya ini menawarkan sebuah jalan masuk untuk kita kembali bekerja
bersama alam.
Aruh berangkat dari ritual Wadian Dadas dan ritual Balian Maratus dengan menangkap dan mengkodefikasi berbagai elemen bunyi serta gerak untuk dihadirkan dengan perspektif hari ini.
Jika pada awalnya kedua ritual ini memiliki spesifikasi ruang dan waktu yang terikat pada masyarakat adat Kalimantan, Aruh berupaya untuk mengkalibrasi unsur-unsur tersebut
menjadi netral, bahkan mentah, untuk berkomunikasi dengan ruang-ruang lain
yang lebih luas tak berbatas.
Artikel Terkait
Ketua Perhimpunan Mahasiswa Manggarai Kota Palangka Raya Minta Pemda NTT Perhatikan Mahasiswa Rantau
Kabupaten Murung Raya Catatkan Rekor MURI Kategori Peserta Kangkurung Terbanyak di HUT ke 20 Mura
Rekor Ikan Seberat 24 Kg di Festival Nariuk Adat tahun 2019 Belum Terpecahkan di Tahun ini, Terbesar 2,5 Kg
Urunan Dana Warga, KWD Dusmala Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah Beli 1 Unit Ambulance
Sendratari Musikal TITIS TUTUS Akan Segera Digelar di Taman Budaya Kalimantan Tengah
Berikut Link Penjualan Tiket Online Ajang Internasional UCI MTB Eliminator World Cup 2022 di Palangkaraya
Banjir Parah Hantam Wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah, Ada yang Terendam Hampir 1 Bulan
Bupati Kotawaringin Timur Klarifikasi Tundingan Tak ada Ditempat Saat Banjir Kepung Kotim, Kalteng
SSB Igal Jue Juara 1 Kategori Umum Lomba Tari Kreasi Gebyar Pemuda 2022 di Kota Palangkaraya Kalimantan Tengah
UMP Kalimantan Tengah Tahun 2023 Naik 8,845 Persen, Kabar Baik Untuk Semuanya