Pendekatan ini mendorong kolaborasi dan sering terlihat dalam lingkungan di mana umpan balik sangat penting untuk keberhasilan.
3. Kepemimpinan delegatif (laissez-faire)
Memberikan otonomi kepada tim, seringkali memberi mereka kebebasan untuk mengambil keputusan sendiri.
Pemimpin delegatif biasanya melakukan intervensi hanya jika diperlukan dan memercayai keahlian timnya untuk melaksanakan tugas tanpa pengawasan terus-menerus.
Ciri-ciri Kepemimpinan otoriter
Kepemimpinan otoriter adalah gaya khas yang ditandai dengan kontrol terpusat yang kuat dari seorang pemimpin atas semua aspek pengambilan keputusan.
Dalam situasi seperti ini, pemimpin memegang semua wewenang dan tanggung jawab, sering kali mengambil keputusan tanpa meminta masukan dari pengikutnya.
Bawahan atau pengikut di bawah kepemimpinan ini memiliki otonomi yang terbatas, karena mereka hanya diberi sedikit kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan dan diharapkan untuk mengikuti perintah tanpa perdebatan apa pun.
Ciri khas dari gaya ini adalah kepatuhannya yang ketat terhadap peraturan dan protokol, sehingga tidak ada ruang untuk fleksibilitas atau penyimpangan dari pedoman yang telah ditetapkan.
Selain itu, dalam kerangka otoriter, terdapat hierarki yang jelas, yang memastikan adanya rantai komando yang terdefinisi dengan baik di mana setiap tingkatan menyadari sepenuhnya tugas dan tanggung jawabnya.
Pro dan kontra dari kepemimpinan otoriter
Kepemimpinan otoriter dipuji dan dikritik karena pendekatannya yang unik terhadap manajemen.
Meskipun hal ini menawarkan keuntungan tertentu dalam hal kecepatan pengambilan keputusan dan kejelasan peran, hal ini juga membawa potensi tantangan, terutama terkait inovasi dan semangat kerja karyawan.