edukasi

Mengenal Apa itu Andingingi ! Tradisi Ritual Adat Suku Kajang Bulukumba Sulsel Penuh Pesan Pelestarian Alam. Bagaimana Proses Ritual Andingingi ?

Kamis, 2 Januari 2025 | 14:25 WIB
Pada 2024, bertepatan dengan Festival Pinisi ke-14, Andingingi berlangsung di Kawasan Hutan Adat Kajang, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, pada Sabtu, 7 September 2024. (Kalimantansatu.com/Dok. Pemkab Bulukumba)

Prosesi Ritual Andingingi

Prosesi ritual andingingi dimulai pada pagi hari. Seluruh orang yang hadir mengenakan pakaian serba hitam sebagai bentuk penghormatan terhadap adat. Para tamu, termasuk Bupati Andi Utta, disuguhi tuak yang disebut sebagai “minuman keberkahan”.

Tuak ini diambil dari pohon aren atau inru dalam hutan adat. Minuman khas ini selalu disiapkan dalam setiap ritual maupun pesta adat.

Prosesi dimulai dengan ritual palenteng ere, yang diawali dengan meminta izin kepada ammatoa, pemimpin adat Kajang.

Dalam ritual ini, dua orang mengitari balla-balla (rumah adat) sambil memercikkan air suci ke delapan penjuru mata angin menggunakan tangkai buah pinang yang diikat bersama dedaunan dari 40 macam kayu (raung kayu patang pulo) yang berasal dari hutan adat.

Air suci ini juga dipercikkan kepada semua orang yang hadir.

Air suci tersebut dipercaya membawa keberkahan bagi semua yang terkena percikannya dan “mendinginkan” alam semesta, sehingga bencana dapat terhindarkan.

Setelah prosesi palenteng ere selesai, dilanjutkan dengan bacca’, yaitu pemberian bedak cair yang terbuat dari campuran tepung beras dan kunyit ke leher atau jidat para peserta.

Ritual ini menyimbolkan dua nilai utama, yaitu pikiran yang jernih dan kejujuran dalam berbicara.

Setelah prosesi bacca', dilanjutkan dengan allabian dedde, yaitu pemberkatan sesajen yang terdiri dari 12 jenis bahan, termasuk telur, beras putih, beras hitam, beras merah, daun sirih, ketan, dan pisang. Semua bahan ini ditempatkan dalam konre-konre, wadah yang terbuat dari anyaman daun kelapa.

Sesajen tersebut kemudian diletakkan di depan pohon besar di kawasan hutan adat, melambangkan hubungan erat antara manusia dan alam.

Pesan Pelestarian Alam

Setiap bahan yang digunakan dalam ritual ini memiliki makna tersendiri.

Beras hitam melambangkan keteguhan dalam menjaga identitas budaya dari pengaruh luar.

Beras ketan putih mencerminkan kejernihan hati dan sikap adil, sementara beras ketan merah menjadi simbol perjuangan hingga titik darah penghabisan.

Halaman:

Tags

Terkini