Mengenal Apa itu Andingingi ! Tradisi Ritual Adat Suku Kajang Bulukumba Sulsel Penuh Pesan Pelestarian Alam. Bagaimana Proses Ritual Andingingi ?

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Kamis, 2 Januari 2025 | 14:25 WIB
Pada 2024, bertepatan dengan Festival Pinisi ke-14, Andingingi berlangsung di Kawasan Hutan Adat Kajang, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, pada Sabtu, 7 September 2024.  (Kalimantansatu.com/Dok. Pemkab Bulukumba)
Pada 2024, bertepatan dengan Festival Pinisi ke-14, Andingingi berlangsung di Kawasan Hutan Adat Kajang, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, pada Sabtu, 7 September 2024. (Kalimantansatu.com/Dok. Pemkab Bulukumba)

Pisang yang digunakan adalah jenis khusus yang disebut ‘loka kattin’ atau ‘pisang kamppiung’, yang dipercaya sebagai pisang pertama yang turun ke bumi.

Selain itu, ikan, udang, dan kepiting yang digunakan dalam ritual diambil dari sungai di kawasan hutan adat.

Pengambilan hasil sungai ini hanya diperbolehkan saat ritual adat atas izin ammatoa.

Prosesi diakhiri dengan makan bersama, yang dimaknai sebagai doa untuk kemakmuran dan terhindarnya masyarakat dari bencana kelaparan.

Dikutip dari situs bulukumbakab.go.id, Profesor Yusran Jusuf, anggota Dewan Kebudayaan Kota Makassar, memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan ritual ini.

Menurutnya, andingingi memiliki makna mendalam terkait harmoni antara manusia dan alam.

“Saya merasa terkesan karena andingingi adalah ritual doa yang dipanjatkan untuk keseimbangan alam dan kedamaian lingkungan. Kehadiran pemerintah bersama masyarakat dalam acara ini memberikan suasana khidmat dan penuh makna,” ujar akademisi Unhas itu.

Ia menambahkan bahwa pelestarian tradisi seperti andingingi sangat penting dalam menjaga budaya lokal sekaligus menciptakan kedamaian dalam masyarakat.

“Kita harus bangga dan terus menjaga tradisi ini agar tetap hidup, terutama dalam menjaga keseimbangan lingkungan.”

Ammatoa, pemimpin adat Kajang, juga berpesan agar masyarakat selalu menjaga kesopanan terhadap alam dan sesama manusia.

“Dari sanalah tercipta keseimbangan,” pesannya.

Dengan rangkaian budaya yang semakin mendapat tempat di ajang Festival Pinisi, Bulukumba kini dikenal tidak hanya sebagai daerah wisata bahari, tetapi juga sebagai penjaga tradisi leluhur yang kaya nilai filosofi.

Ritual andingingi menjadi bukti nyata kekayaan budaya yang mampu membangun harmoni antara manusia, adat, dan alam.

Semangat melestarikan budaya ini membawa harapan agar warisan leluhur terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.

(*)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Sumber: Indonesia.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X