ekonomi-bisnis

Menanti Respon Cepat Indonesia demi Demand Ekspor Tak Turun usai IHSG BEI pada Selasa, 8 April 2025 Melemah 596,33 Poin

Selasa, 8 April 2025 | 14:35 WIB
Potret Gedung Indonesia Stock Exchange (IDX) atau Bursa Efek Indonesia (BEI). (Kalimantansatu.com/Unsplash Ruben Sukatendel)

KALIMANTANSATU.COM - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia dibuka usai libur panjang Lebaran 2025, pada Selasa, 8 April 2025 pukul 09.00 WIB.

Tercatat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI melemah 596,33 poin atau 9,16 persen ke posisi 5.914,28.

Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 92,61 poin atau 11,25 persen ke posisi 651,90.

Terkait hal itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus sebelumnya memproyeksikan IHSG berpotensi akan bergerak melemah terdampak sentimen kebijakan tarif impor oleh Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Update Harga Emas Antam Hari Ini Selasa 8 April 2025: Turun Rp4.000 menjadi Rp1,754 Juta per Gram

"Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah dengan support dan resistance 6.200 - 6.570," ungkap Nico dalam analisisnya kepada awak media di Jakarta, pada Selasa, 8 April 2025.

Meskipun terdapat lebih dari 50 negara yang mengajukan negosiasi terhadap kebijakan tarif impor AS, namun hal itu masih membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa melakukan penyesuaian dan kesepakatan.

Dari dalam negeri, Nico menilai perlunya respon cepat dan tepat dari pemerintah agar demand ekspor tidak menurun dan kepercayaan investor dapat pulih kembali.

Sebelumnya, RI telah mengambil pendekatan negosiasi sebagai respons terhadap kebijakan tarif resiprokal sebesar 32 persen dari AS.

Baca Juga: IHSG BEI Hari Ini Melemah 9,16 Persen, Pengamat Sebut 50 Negara Siap Nego Imbas Dampak Tarif Impor Amerika Serikat

Nico menyoroti Pemerintah Indonesia yang meningkatkan volume impor, seperti komoditas seperti gandum, kapas, dan produk minyak serta gas dari AS.

"Strategi ini diharapkan dapat mengurangi tekanan tarif, mengingat neraca perdagangan AS terhadap Indonesia masih mencatat defisit sekitar 17,88 miliar AS pada tahun 2024," tutur Nico.

(*)

Tags

Terkini