kalbar-borneo

Mengenal Sejarah Benteng Tabanio Takisung Tanah Laut Kalimantan Selatan yang Dibangun oleh Kompeni Belanda dan Sempat Direbut Pangeran Antasari Cs

Selasa, 2 Juli 2024 | 21:42 WIB
Bekas bata Benteng Tabanio terletak di Desa Tabanio RT.14, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. (Kalimantansatu.com/BPCB Kaltim)

KALIMANTANSATU.COM, KALIMANTAN SELATAN - Kekayaan tanah Kalimantan menjadi daya tarik negara lain untuk mengeksplor wilayah tersebut.

Pada zaman penjajahan Belanda misalnya, konon ada sebuah benteng di Desa Tabanio RT.14, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan.

Dalam catatan sejarah, benteng itu dikenal dengan nama Benteng Tabanio.

Tujuan pendirian benteng terkait masalah ekonomi dan politik, terutama penguasaan terhadap rempah-rempah dan tambang batu bara yang ada di Banyu Irang (Tanah Laut).

Sebagai informasi, Benteng Tabanio memiliki kaitan dengan Benteng Tatas di Banjarmasin (sekarang Mesjid Raya Sabilal Muhtadin) yang menjadi sentral perekonomian di Kalimantan Selatan.

Baca Juga: Jejak Reruntuhan Benteng Tabanio di Takisung Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan. Peninggalan Peradaban Belanda yang Pernah Berjaya

Dilansir BPCB Kaltim, Benteng Tabanio dibangun pada tahun 1789.

33 tahun lebih muda dibanding Benteng Tatas yang didirikan pada tahun 1756.

Banyaknya benteng yang didirikan oleh Belanda melatarbelakangi munculnya ketidaksenangan penduduk terhadap Belanda.

Akhirnya, menyebabkan Perang Banjar terjadi.

Penyerangan Benteng Pengaron pada tanggal 28 April 1859 di bawah pimpinan Pangeran Antasari, dan berakhir pada Januari 1905 dengan gugurnya Pangeran Mohammad Seman (Gusti Mat Seman) bin Pangeran Antasari untuk mengusir kekuasaan dan Kompeni Belanda dari Tanah Banjar yang bersemboyan “Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing “.

 Baca Juga: Mengenal Batur dan Balontang di Wilayah Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan. Menyatu Dalam Kehidupan Masyarakat Dayak Maanyan, Deah Maupun Lawangan

Fungsi lain dari pembangunan benteng tersebut adalah untuk melindungi pegawai-pegawai Belanda.

Dengan kegigihan para pejuang pada saat Perang Banjar di bulan Agustus 1859, Haji Buyasin yang mengikuti Demang Leman dan Kiai Langlang beserta beberapa pasukan menyerang Benteng Tabanio.

Mereka berhasil merebut Benteng Tabanio, bahkan pemimpin Belanda yang bernama Mauritz tewas beserta beberapa tentara Belanda.

Halaman:

Tags

Terkini