Kemudian Kompeni Belanda mengerahkan kekuatan militernya dengan menggunakan Kapal Perang Bone untuk merebut kembali Benteng Tabanio.
Tetapi sekali lagi dapat dipukul mundur oleh Haji Buyasin yang sebenarnya mendapat tugas dari Pangeran Antasari untuk memimpin perang gerilya (gurila : bhs. Banjar) di bagian Tanah Laut (Pleihari, Bati – Bati, Satui, Tabanio, dan seluruh pesisir serta Pantai Tanah Laut).
Pada serangan Kompeni Belanda yang kedua, dikerahkan kekuatan yang besar terhadap Benteng Tabanio yang diduduki oleh Haji Buyasin.
Akibatnya, Banteng Tabanio dapat direbut kembali oleh Belanda.
Haji Buyasin sendiri menyingkir dan mendirikan Benteng di Takisung di sebelah tenggara Tabanio.
Tetapi Belanda kembali menyusun kekuatan serta perencanaan strategis yang lebih matang di Benteng Tabanio.
Kemudian pada bulan Desember 1859, Benteng Haji Buyasin di Takisung diserang secara besar – besaran dan dapat dihancurkan.
Haji Buyasin menyingkir ke daerah Pleihari yang akhirnya sampai ke daerah Bati – Bati.
Kemudian di kepung oleh Belanda dari tiga jurusan yaitu arah Pleihari, dari arah Martapura, dan dari arah Banyu Irang dengan serdadu militernya berkekuatan 115 orang.
Tabanio Daerah Strategis Kerajaan Banjar
Di masa sekitar abad XVII daerah Tabanio merupakan daerah yang strategis dan penting bagi perekonomian Kerajaan Banjar.
Daerah ini merupakan daerah lintas perdagangan seperti hubungan ke Jawa, Pesisir Kalimantan, Sulawesi, bahkan Sumatera dan Malaya serta luar Nusantara.
Sekitar 1,5 kilometer dari Benteng Tabanio ke Utara ada sebuah Kampung Melayu yang merupakan kampung tertua.