Dongeng Pengantar Tidur Anak : Legenda Situ Bagendit Cerita Rakyat Jawa Barat

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Sabtu, 9 September 2023 | 21:27 WIB
Danau Situ Bagendit Jawa Barat (Instagram @bagenditofficial)
Danau Situ Bagendit Jawa Barat (Instagram @bagenditofficial)

Harta yang berlimpah ini membuat Nyai Endit menjadi semakin menjadi-jadi.

Bukan hanya sering menekan para warga dan petani di sana, Nyai Endit juga bahkan tidak pernah mau membantu orang-orang di sekitarnya yang sedang dilanda kesusahan.

Nyai Endit hanya sibuk memikirkan harta kekayaannya sendiri. Setiap kali ada orang yang datang ke rumah Nyai Endit untuk meminta bantuan, Nyai Endit akan mengusir mereka dan enggan menolong mereka walau sebenarnya mereka hanya membutuhkan sedikit bantuan.

“Ini semua, kan, hartaku! Kenapa aku harus berikan apa yang aku miliki pada mereka? Jika mereka ingin memiliki banyak harta dan tidak hidup susah sepertiku, kenapa ia tidak bekerja lebih giat saja?! Mereka hanya bisa meminta-minta!” Ucap Nyai Endit tiap ada yang datang ke rumahnya untuk meminta bantuan.

Tentu saja para warga sebenarnya sudah bekerja dengan sangat giat dan sangat keras.

Namun, karena tekanan yang diberikan Nyai Endit pada mereka, mereka tidak bisa mendapatkan hasil yang sebanding dengan kerja keras mereka.

Dibandingkan menggunakan hartanya untuk hal-hal baik atau bermanfaat, Nyai Endit lebih senang menggunakannya untuk berfoya-foya dan berpesta di desa.

Di saat ia sedang asik berpesta dengan para warga desa, Nyai Endit akan menggunakan waktu berpesta ini untuk menyombongkan kekayaannya pada warga.

Tentu saja pesta yang diadakan oleh Nyai Endit ini memiliki dampak yang buruk bagi para warga.

Pesta yang diadakan ini selalu membuat para penduduk desa kehabisan bahan makanan.

Bahkan, beberapa di antaranya mulai menderita kelaparan karena mereka tidak bisa mendapatkan bahan makanan selama berhari-hari.

Hingga pada suatu hari, ada seorang warga yang mengeluhkan kondisinya karena beras di rumahnya akan habis dan ia terpaksa harus membelinya pada Nyai Endit.

Warga lainnya menjawab keluhannya dengan cerita yang lebih sedih, katanya Nyai Endit kini menjual beras dengan harga 15 kali lipat lebih mahal dari harga saat mereka menjualnya.

Mereka hanya bisa duduk pasrah sambil memikirkan nasib keluarganya harus makan apa malam ini.

Lalu pada suatu hari yang terik, Nyai Endit kembali mengadakan pesta besar-besaran.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Sumber: Lingoace

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X