5. Perawat asal Kalbar yaitu Suster Revocata, 2 (dua) orang juru rawat, mantri H. Nyabu dan Atan
Masa Pemerintahan Jepang
Tahun 1942, dokter-dokter dan para suster tetap bertugas di rumah sakit kurang lebih 9 (sembilan) bulan sebelum satu persatu mereka menghilang, pindah dan bahkan ditawan serta dibunuh.
Meskipun demikian, rumah sakit ini tetap berjalan terus.
Rumah Sakit ini selanjutnya diambil alih dan dipimpin oleh 3 (tiga) orang dokter Jepang dan dibantu seorang suster pribumi yaitu Suster Brahama sebagai pimpinan perawatan.
Pada waktu diambil alih oleh pemerintahan NICA, rumah sakit dalam keadaan baik namun perlengkapannya sangat berkurang dan pasien hanya tinggal 5 (lima) orang, sementara itu rumah sakit dipimpin oleh Dr. Soedarso (alm) sebelum pemerintah NICA mengirimkan Dr. Hazewinkel yang selanjutnya menjadi direktur rumah sakit; bersama istrinya, seorang ahli penyakit dalam, para suster dan 4 (empat) orang perawat.
Mereka berkarya di rumah sakit ini dan berusaha sedikit demi sedikit melengkapi segala kekurangan yang ada.
Untuk perlengkapannya itu, rumah sakit banyak mendapat bantuan dari instansi – instansi pemerintah dan relasi.
Dalam tahun – tahun pertama mengalami banyak kekurangan, terutama di bidang farmasi sebab Jakarta tidak bisa secepatnya melayani permintaan-permintaan.
Masa Pemerintah Republik Indonesia (1949-1984)
Pada tahun 1949, setelah kedaulatan Republik Indonesia, rumah sakit Pontianak yang telah diadopsi oleh pemerintah NICA, sekarang diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia, dengan syarat pihak missi mempunyai hak turut menentukan personil dan hak memiliki gedung-gedungnya.
Setelah pemerintahan NICA tidak lagi berkuasa di Indonesia, Dr. Hazenwinkel dan keluarganya kembali ke negerinya (Belanda).
Pada bulan Juni 1949, Dr. Hazenwinkel digantikan oleh Dr. Lim Kiong Wan, seorang ahli bedah; dibantu oleh suster perawat Belanda 5 (lima) orang, 4 (empat) orang perawat Indonesia dan 2 orang pembantu perawat.
Jumlah pasien rata-rata 129 orang per hari yang 88% dari jumlah tempat tidur yang tersedia.
Melalui panitia dan sumbangan pribadi dokter, maka dapat dikumpulkan biaya untuk membuat kamar rontgen.