Total air hujan yang digunakan sebanyak 8 ribu liter. Air hujan itu dicampur garam ikan sesuai ketentuan.
Selain air, sejumlah media yang digunakan antara lain, paralon, filtrasi mekanis, karang jahe, oister, dan skimmer.
Ada juga alat sinar UV yang selalu stanby untuk mencegah tumbuhnya alga alias lumut.
"Ini agar tidak mudah stress. Kalau stress bisa membuat pertumbuhan kepiting kurang bagus. Kami juga berhasil mengembangkan bakteri baik bernama nitrat. Bakteri ini berfungsi agar kepiting semangat nafsu makan. Semua terhubung dalam aliran air sistem instalasi dan filtrasi," paparnya.
Bibit-bibit kepiting yang dikumpulkan dari pengepul, kata Findo, disortir berdasarkan kategori. Yakni BS, STI lunak, dan STI.
Selanjutnya direndam di bak karantina berisi air PK selama satu hari satu malam.
Hal ini bertujuan untuk proses adaptasi, serta membunuh parasit dan bakteri jahat.
Setelah steril, kepiting bakau baru dimasukkan ke dalam boks rumah kepiting masing-masing untuk dibesarkan menjadi ukuran Super hingga Export.
"Untuk makannya, kami berikan ikan lele dan gondang (keong mas). Jadwalnya dua kali sehari. Jam 5 sore dan jam 10 malam. Malam itu harus makan karena kepiting bakau ini makhluk nocturnal yang beraktivitas malam hari. Jadi, satu kepiting hitung rata sekitar 15 gram per ekor untuk satu kali jadwal makan," tuturnya.
"Kalau penyakit kepiting paling sering itu fibrio cangkang. Cangkangnya berjamur, cara penanggulangannya melalui perendaman air PK atau daun ketapang kering. Selain itu stress, ini bisa sampai susut berat badan kepitingnya. Memang perlu penanganan ekstra untuk menghasilkan kepiting bakau kualitas export," pungkasnya.
(*)