KALIMANTANSATU.COM, PONTIANAK - Pegiat Digital Safety, Rizky Prabowo Rahino mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap modus penipuan social engineering.
Modus ini, kata dia, digunakan oleh para pelaku untuk memuluskan aksi kejahatan di dunia digital.
Tidak hanya sebatas pencurian identitas saja, social engineering bisa menjadi pintu masuk ke kejahatan digital lainnya.
"Informasi sensitif itu bisa digunakan sebagai akses ilegal ke sistem komputer atau smartphone. Paling sering terjadi penipuan finansial, tiba-tiba saldo di rekening bank korban raib," ungkapnya pada Kamis 21 November 2024.
Selain itu, pelaku kejahatan siber juga bisa mendapatkan data-data penting yang terkoneksi.
Pelaku juga berpeluang mengambil alih akses, mengganti, bahkan menghilangkan data penting tersebut, sekaligus merusak reputasi korban.
"Seharusnya data-data itu bersifat rahasia dan aksesnya terbatas. Dalam kata lain, hanya bisa diakses si pemiliknya saja," terangnya.
Dalam menjalankan aksi social engineering, pelaku kejahatan siber memainkan psikologis calon korban.
Untuk mendapatkan data-data penting itu, pelaku berupaya agar korban percaya.
"Semisal berpura-pura sebagai pihak-pihak berwenang seperti pegawai perbankan, instansi pemerintah, perusahaan, dan staf teknis perbaikan komputer dengan alasan keperluan mendesak," paparnya.
Aksi social engineering, lanjut dia, juga dilakukan dengan penyebaran email atau situs website palsu, dan file Android Package Kit (APK) berisi malware.
Semua itu dibuat seolah-olah seperti benar dan mirip aslinya agar meyakinkan calon korban.
"Ingat, tujuan dasarnya korban percaya lalu menyerahkan data rahasia itu. Data itu lah yang digunakan sebagai modal untuk kejahatan digital," jelasnya.