Contoh eksportir terbesar selanjutnya ditempati negara Thailand, Vietnam, India, Pantai Gading, dan Malaysia.
Data dari Pusdatin, dalam kurun 2016-2019 produksi kelapa terus mengalami penurunan dan naik sekitar 18 ribu ton pada tahun 2020.
Selama periode 2012-2021 perkembangan volume ekspor produk turunan kelapa berupa kopra dan minyak kelapa, berfluktuasi dengan rata-rata pertumbuhan masing-masing sebesar 42,62% dan 1,00% per tahun.
Namun, volume ekspor keduanya masih jauh di bawah ekspor kelapa butir.
Pada tahun 2023, Presiden Joko Widodo meminta agar pada tahun 2023 kelapa Indonesia tidak diekspor mentah (kelapa butir atau kelapa bulat), namun diekspor sebagai barang setengah jadi atau barang jadi agar produk memiliki nilai tambah.
Nata de coco, arang batok dan kelapa parut adalah beberapa produk turunan dari kelapa.
Nilai tambah nata de coco mencapai 3,6 kali, sedangkan nilai tambah arang batok mencapai 4,5 kali, nilai tambah kelapa parut mencapai 6 kali, dan nilai tambah VCO (Virgin Coconut Oil) hingga 11 kali.
Menilik data dari Badan Karantina Pertanian, volume ekspor kelapa butir atau kelapa bulat pada bulan Juni 2023 masih lebih tinggi dibandingkan produk turunannya, yaitu bungkil kelapa dan kopra.
Volume ekspor kelapa bulat mencapai 61,9 ribu ton dengan tujuan ekspor ke Cina, Malaysia, Thailand, Vietnam, Singapura.
Bungkil kelapa diekspor ke India, Cina, Vietnam, Malaysia, dan Jepang dengan total volume ekspor 15,2 ribu ton.
Sedangkan volume ekspor kopra sebanyak 9.4 ribu ton dengan negara tujuan ekspor meliputi Korsel, Banglades, India, Pakistan, dan Filipina.
Ekspor produk turunan kelapa, baik berupa barang setengah jadi maupun barang jadi, mampu meningkatkan tersedianya lapangan kerja, pendapatan bagi petani, serta penerimaan devisa negara.
Selain bungkil kelapa dan kopra, kelapa dapat diolah menjadi kelapa parut, santan, minyak kelapa, tepung kelapa, arang batok, hingga nata de coco.