KALIMANTANSATU.COM - Madu dianggap memiliki potensi besar untuk menjadi komponen penting dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal ini berkat kandungan nutrisinya yang kaya energi, vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif.
“Pengintegrasian madu dalam Program MBG tidak hanya memperkaya kualitas gizi, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi melalui pemanfaatan produk lokal yang berkelanjutan,” ungkap Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana saat acara daring Konsultasi Pemanfaatan Teknologi dalam Rangka Mendukung Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) di Semarang, Rabu (9/10/2025).
Baca Juga: Menteri UMKM Maman Abdurrahman Dorong Madu Jadi Alternatif Menu MBG, Ini Alasannya
Saat ini, masih terdapat kesenjangan antara kebutuhan dan produksi madu nasional.
Berdasarkan Data Kementerian UMKM, jelas dia, kebutuhan madu di Indonesia mencapai sekitar 7.500 ton per tahun, dengan asumsi konsumsi per kapita sebesar 30 gram per tahun.
Namun, produksi nasional baru sekitar 2.000 ton per tahun.
“Artinya, masih ada ruang besar untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas madu lokal,” terangnya.
Sebagai langkah konkret, Kementerian UMKM terus mengembangkan pendekatan hilirisasi komoditas unggulan melalui program Rumah Produksi Bersama (RPB) atau Factory Sharing, yang telah berjalan di 16 kabupaten/provinsi sejak 2022 hingga 2024.
Melalui program ini, lanjut dia, para pengusaha UMKM dapat mengakses fasilitas produksi bersama, pelatihan teknologi, dan sertifikasi mutu untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing produk.
Kementerian UMKM optimistis bahwa dengan hilirisasi yang didukung inovasi dan kolaborasi lintas sektor, madu lokal dapat menjadi produk unggulan yang berdaya saing tinggi, berkontribusi langsung pada program nasional MBG, serta membuka peluang ekspor di pasar global.
“Inovasi dan kolaborasi akan menjadi kunci agar madu Indonesia tidak hanya menjadi konsumsi domestik, tetapi juga dikenal di pasar dunia,” ujar Menteri Maman.
Potensi Pangan Lokal MBG