KALIMANTANSATU.COM - Indonesia Creative Cities Network (ICCN) resmi menyuguhkan Indonesia Culture Festival (ICF) sebagai platform strategis untuk memperkuat konektivitas antar kota dan kabupaten kreatif di Indonesia melalui pendekatan pemajuan kebudayaan yang terintegrasi dengan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, pendidikan, ekologi, dan pembangunan kawasan berbasis komunitas.
ICF dibangun bukan sekadar festival budaya tahunan, tetapi sebagai ekosistem kolaboratif yang menghadirkan dampak sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan secara berkelanjutan.
Ketua Harian ICCN, Vicky Arief Herinadharma, menjelaskan bahwa ICF menjadi langkah strategis ICCN dalam membangun model aktivasi budaya yang mampu memperkuat identitas kawasan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
“ICF kami hadirkan bukan hanya sebagai festival budaya, tetapi sebagai platform kolaborasi yang dapat mempertemukan komunitas, pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat dalam satu ekosistem pembangunan budaya yang hidup dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Vicky, festival harus berkembang menjadi instrumen pembangunan kawasan berbasis komunitas dengan prinsip Kemandirian, Keberlanjutan, dan Berdampak.
Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut diharapkan mampu melahirkan sistem kolaborasi yang tidak berhenti pada perayaan sesaat, tetapi berlanjut pada penguatan identitas daerah, ekonomi masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.
ICF sendiri merupakan pengembangan dari format “Indonesia Culture & Creative Festival” yang sebelumnya lebih berorientasi pada agenda festival budaya.
Dalam perkembangannya, ICCN membangun ICF sebagai platform kolaborasi lintas sektor yang mempertemukan komunitas, pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, media, dan jejaring kreatif nasional dalam satu sistem kerja bersama yang hidup dan berkelanjutan.
Deputi 2 Ekosistem Kreatif & Pembangunan Perkotaan, Zandri Aldrin Tuhepaly, menyampaikan bahwa ICF dirancang sebagai hub agregasi jejaring kota dan kabupaten kreatif Indonesia melalui konsep “District Fest Aggregation”.
“Kami ingin membangun sistem jejaring yang memungkinkan festival lokal, living museum, creative hub, hingga program budaya berbasis komunitas dapat saling terhubung tanpa kehilangan identitas khas daerah masing-masing,” jelasnya.
Dalam implementasinya, ICF dibangun sebagai “festival berbasis dampak” yang dirancang untuk menghasilkan perubahan nyata melalui penguatan ekosistem budaya dan ekonomi kreatif berbasis komunitas. Karena itu, struktur program ICF disusun melalui berbagai bentuk aktivasi seperti cultural residency, placemaking, leaders talk, business matching, gastro diplomacy, hingga pengembangan rekomendasi kebijakan berbasis potensi lokal.
Sebagai titik awal pelaksanaan, kawasan Boon Pring Andeman dipilih sebagai lokasi peluncuran Indonesia Culture Festival karena dinilai merepresentasikan model pengembangan living museum berbasis komunitas dan konservasi lingkungan. Kawasan tersebut sebelumnya telah diperkenalkan sebagai “Bamboo Living Museum” dalam ICCF Nusantaraya 2025 dan kini dikembangkan sebagai model pengelolaan kawasan budaya berbasis masyarakat.