Nilai Eksotis dan Makna yang terkandung dalam Seni Ukir Sapundu dan Balontang dari Kalimantan Tengah

photo author
Patriano Jaya Maleh, Kalimantan Satu
- Senin, 6 Juni 2022 | 16:05 WIB
Sapundu atau Balontang, Warisan kebudayaan suku Dayak di Kalimantan Tengah (Tangkapan layar Instagram @disbudparkalteng)
Sapundu atau Balontang, Warisan kebudayaan suku Dayak di Kalimantan Tengah (Tangkapan layar Instagram @disbudparkalteng)

Kalimantansatu - Jika anda menemukan tiang dengan ukiran berupa patung berada di depan rumah atau disebuah areal di wilayah Kalimantan Tengah maka anda telah melihat sebuah hasil karya olah seni ukir tradisional khas suku Dayak Kalteng.

Ukiran patung ini memiliki sebutan berbeda seperti Balontang di suku dayak Maanyan dan Lawangan sedangkan di suku dayak Ngaju menyebutnya Sapundu.

Sapundu merupakan salah satu bentuk seni ukir tradisional masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, berupa patung-patung dengan motif dan fungsi yang khas.

Baca Juga: Lulusan SMA dan SMA, Berikut Bocoran Nilai Ambang Batas Seleksi Kompetensi Dasar SKD untuk Sekolah Kedinasan

Dikutip dari Instagram @disbudparkalteng "sesungguhnya tidak terdapat aturan adat yang secara ketat mengatur motif ukiran pada sapundu. Namun pada kenyataannya motif ukiran sapundu hampir seluruhnya menggambarkan tentang manusia."

Sedangkan untuk Balontang juga hampir sama, dalam peembuatan gambaran ataupun bentuk balontang tidak ada aturan tertentu yang mengikat namun biasanya menggambarkan pemiliknya semasa hidup.

Pada umumnya media ukir Sapundu dan Balontang menggunakan kayu ulin, atau dalam bahasa Dayak Ngaju disebut tabalien.

Baca Juga: Usulan Kenaikan Pangkat Bagi Pegawai Negeri Sipil Akan Segera Dimulai, Simak Kapan Dibukanya disini

Pemilihan jenis kayu ulin ini tentu salah satunya karena kekuatan kayu ini yang mampu bertahan hingga mencapai ratusan tahun.

Patung Sapundu sendiri merupakan alat kelengkapan dari upacara Tiwah, yang digunakan untuk mengikat hewan-hewan kurban.

Selain itu sapundu juga dapat digunakan untuk mengukur tingkatan sosial seseorang di dalam suatu kelompok masyarakat.

"Banyak sapundu-sapundu yang dicuri untuk kemudian diperjualbelikan. Apabila aksi pencurian dan penjualan sapundu dibiarkan saja tanpa adanya usaha perlindungan, maka dikhawatirkan suatu hari nanti sapundu-sapundu yang telah berusia ratusan tahun akan hilang." tulis instagram @disbudparkalteng.

Baca Juga: Tidak Pulang Beberapa Hari, Seorang Wanita Laporkan Suaminya yang Diduga Selingkuh Ke Polisi

Di satu sisi lain Sapundu atau Balontang juga dianggap memiliki kekuatan magis dan nilai eksotime.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Patriano Jaya Maleh

Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id, Instagram@disbuparkalteng

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X