KALIMANTANSATU.COM - Sudah tahu apa itu imaji ? Anak sastra harus tahu nih.
Imaji adalah salah satu unsur fisik puisi dan unsur ini berada di dalam puisi, sehingga hal ini bisa berupa ungkapan atau susunan kata-kata yang dapat membawa seseorang saat membaca puisi merasa seolah-olah dapat mengindra peristiwa yang terjadi dalam puisi tersebut.
Namun, untuk lebih jelasnya, mari kita ketahui pengertian imaji menurut pendapat para ahli.
Berikut ini sejumlah definisi imaji itu apa dari pada ahli dirangkum Kalimantansatu.com dari Berbagai Sumber :
- Imaji adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat memperjelas atau mengonkret apa yang dinyatakan oleh penyair. Melalui imaji ini, apa yang digambarkan seolah-olah dapat dilihat, didengar, atau dirasa (Waluyo, 2003:10).
- Menurut Rokhmansyah (2014: 18) imaji adalah susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris di mana pembaca seolah-olah dapat melihat, mendengar, merasakan, seperti apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan penyair dalam puisinya secara imajinatif melalui pengalaman dan rasa kita.
- Imaji adalah usaha sang penyair dengan penggunaan kata-kata yang tepat untuk membangkitkan pikiran dan perasaan para penikmat puisi sehingga mereka menganggap bahwa merekalah yang mengalami peristiwa jasmaniah tersebut (Tarigan, 1986: 30).
- Imaji bisa muncul pada diri seseorang, apabila seseorang mau memikirkan dan mengimajinasikan sesuatu yang dibacanya melalui perasaan. Sebab semua manusia mengalami dan melihat apa yang ada di dunia ini melalui perasaanya (Situmorang dalam Rokhmansyah, 2014: 17).
- Imaji atau citraan merupakan salah satu cara-cara memanfaatkan saran kebahasan di dalam sajak. Di dalam sajak diperlukan kekonkretan gambaran, kejelasan, dan hidupnya gambaran. Dengan begitu, ide yang semulanya absrtrak dapat ditangkap seolah-olah dilihat, didengar, dirasa, dicium, diraba, atau dipikirkan oleh pembacanya (Hasanuddin (2012: 89).
Penyair berusaha menghubungkan intuisinya sebagai penyair dengan imajinasi yang ada pada pembaca. Akibatnya, ia harus berusaha menata kata sedemikian rupa sehingga makna-makna yang abstrak menjadi konkret dan nyata.
Di dalam sajak diperlukan kekonkretan gambaran, kejelasan, dan hidupnya gambaran. Dengan demikian, ide-ide yang abstrak yang sebelumnya tidak bisa ditanggap alat indra, diberi gambaran atau dihadirkan dalam gambar-gambar inderaan.
Dengan begitu, ide yang abstrak tersebut seolah-olah dapat dilihat, didengar, dirasa, dicium, diraba, atau dipikirkan.
(Tim Kalimantan Satu 02)