KALIMANTANSATU.COM, JAKARTA - Keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk mengolah Sumber Daya Alam (SDA) di dalam negeri dan tidak menjualnya dalam bentuk mentah ke luar negeri mulai menunjukan titik terang.
Hal ini nampak pada realisasi investasi di Indonesia pada Triwulan I tahun 2026 yang menunjukan trend positif, terutama pada sektor hilirisasi.
Total realisasi investasi mencapai angka Rp498,8 triliun, tumbuh 7,2% secara tahunan (year-on-year, YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara realisasi investasi hilirisasi naik 8,2% menjadi Rp 147,5 triliun.
Yang menarik, pada triwulan pertama tahun ini, penanaman modal asing (PMA) kembali mendominasi dengan nilai Rp250 triliun atau 50,1%.
Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang mencapai Rp248,8 triliun atau 49,9%.
“Ini menjadi sinyal kuat bahwa kebijakan ekonomi nasional sudah berada di jalur yang benar, sekaligus menunjukkan kepercayaan investor yang semakin tebal terhadap agenda transformasi ekonomi Indonesia,” ujar Direktur NEXT Indonesia Center, Christiantoko, di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Christiantoko menjelaskan, dari sektor hilirisasi yang menyerap 29,6% dari total investasi nasional tersebut, sekitar 66,7% atau Rp98,4 triliun berasal dari penanaman modal asing (PMA).
“Angka ini menunjukkan investor semakin serius menanamkan modal pada proyek pengolahan bahan mentah menjadi produk jadi atau setengah jadi, sejalan dengan target pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah,” ujarnya.
Dari total investasi hilirisasi sektor mineral menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp98,3 triliun.
Di dalamnya, komoditas nikel masih memegang peran paling dominan sebagai primadona investasi dengan nilai mencapai Rp41,5 triliun.
Mengikuti jejak nikel, sektor tembaga juga menunjukkan geliat investasi yang kuat dengan membukukan nilai sebesar Rp 20,7 triliun dan besi baja sebesar Rp17 triliun. Adapun komoditas lain seperti bauksit mencatat Rp13,7 triliun.