ekonomi-bisnis

Terus Cetak Rekor ! Kini Produksi Beras 2026 Indonesia Naik Ketika Produksi Dunia Turun dan Cadangan Global Menipis

Selasa, 23 Juni 2026 | 08:38 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengecek cadang beras nasional. (Dok. Kementerian Pertanian)

KALIMANTANSATU.COM, JAKARTA - Indonesia mencatatkan pencapaian yang membanggakan di sektor pertanian.

Di saat panen dunia terkontraksi dan cadangan global menipis, produksi beras pemerintah justru menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah.

“Ketika dunia memanen lebih sedikit, Indonesia justru memanen lebih banyak,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dikutip Senin (22/6/2026).

Laporan terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menempatkan Indonesia sebagai salah satu titik terang di peta pangan dunia pada 2026.

Baca Juga: Bakom RI Sampaikan Keinginan Presiden Prabowo, Himbara Menjadi Perbankan Patriotik Hingga Perluas Pembiayaan untuk UMKM

Dalam laporan setebal 137 halaman yang seluruh asesmen berasnya mengacu pada data hingga 13 Mei 2026 tersebut, FAO memproyeksikan produksi beras dunia pada 2026/2027 turun 1,6 persen menjadi 552,4 juta ton.

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat Ini merupakan koreksi pertama setelah dua musim panen rekor berturut-turut.

“Namun, di tengah kontraksi global itu, grafik produksi Indonesia justru bergerak naik,” kata Amran.

FAO menempatkan produksi beras Indonesia pada angka 38,6 juta ton setara beras giling pada 2026/2027, melonjak secara signifikan dari 34,0 juta ton pada 2024/25.

Dengan capaian ini, Indonesia kini bertengger sebagai produsen beras terbesar keempat di dunia.

Baca Juga: Pemerintah Pertahankan HET Minyakita Rp15.700 per Liter untuk Menjaga Daya Beli Masyarakat

Indonesia berada di bawah India, China, dan Bangladesh.

Indonesia sekaligus menjadi satu dari sedikit produsen besar yang produksinya terus meningkat saat raksasa-raksasa pangan lain tengah tersandung.

Daftar negara produsen yang mengalami penyusutan tahun ini terbilang masif. FAO mencatat produksi Thailand anjlok 6,1 persen menjadi 21,8 juta ton.

Halaman:

Tags

Terkini