Erlin Budiman memaparkan, EBITDA SSIA untuk 9M25 mencapai Rp 256,7 miliar, dibandingkan Rp 660,0 miliar di 9M24.
Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh kinerja EBITDA segmen perhotelan yang turun sebesar Rp 307,7 miliar YoY (-123,7%).
EBITDA SSIA tumbuh signifikan sebesar 116,2% QoQ pada 3Q25, mencapai Rp150,7 miliar dibandingkan Rp69,7 miliar di 2Q25, didorong oleh perbaikan kuat dari segmen properti dan konstruksi.
Segmen properti mencatat kenaikan luar biasa sebesar 287,5% menjadi Rp 91,3 miliar, ditandai dengan penjualan tanah yang lebih tinggi dan margin yang membaik.
Segmen konstruksi juga mencatat peningkatan solid sebesar 73,3% menjadi Rp 99,4 miliar, didukung oleh kemajuan proyek yang stabil dan efisiensi biaya.
Sementara itu, segmen perhotelan melaporkan pengurangan kerugian sebesar 77,7%, memperkecil EBITDA negatif menjadi Rp 4,9 miliar, karena aktivitas renovasi di Paradisus by Meliá Bali masih berpengaruh sementara terhadap kinerja.
SSIA mencatat laba bersih konsolidasi sebesar Rp 6,5 miliar dalam 9M25, dibandingkan Rp 228,4 miliar di 9M24.
SSIA berhasil membalikkan keadaan pada kuartal 3Q25 dengan laba bersih melonjak 464,7% QoQ menjadi Rp 38,8 miliar, dibandingkan rugi bersih sebesar Rp 10,6 miliar di 2Q25.
Segmen properti memimpin pertumbuhan dengan kenaikan luar biasa sebesar 330,7% menjadi Rp 77,1 miliar.
Segmen konstruksi juga menunjukkan kinerja solid, naik 130,4% menjadi Rp 79,9 miliar.
Sementara itu, segmen perhotelan menunjukkan pemulihan berkelanjutan, dengan kerugian bersihnya menyusut 27,2% QoQ menjadi Rp 31,6 miliar, karena operasional secara bertahap membaik meskipun renovasi di Paradisus by Meliá Bali masih berlangsung.
Segmen perhotelan Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan kuartal ini, didukung oleh kebijakan pengeluaran pemerintah yang lebih akomodatif, pergeseran arus wisata regional dari Thailand, dan peningkatan indeks kepercayaan konsumen.
Posisi kas Perusahaan pada 9M25 adalah Rp1.611,3 miliar, turun tipis 4,2% dari Rp1.682,3 miliar pada 1H25.