Penggalian yang dilakukan di Gua Tengkorak tahun 2003 oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mengindikasikan menggunakan alat batu sebagai pendukung kehidupan penghuni gua.
Temuan serpihan batu dari bahan rijang yang ditemukan pada kedalaman lebih 20 cm menampakkan jejak teknologi seperti perimping dan kerucut pukul.
Beberapa diantaranya diduga alat serpih dari jenis serut dan lancipan yang mungkin disiapkan untuk mata panah atau tombak.
Limbah pembuatan alat batu ini berasosiasi dengan keramik, fragmen gerabah, cangkang kerang, fragmen tulang hewan, artefak kerang yang diduga hiasan dan sisa-sisa arang.
Alat-alat batu yang ditekan di Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat menurut Chazine tidak mengikuti “standar”, beberapa dari kelaziman. terkesan batu inti hanya dipangkas kasar, tidak detail, diasah secara cepat, dan asal jadi.
Tampaknya alat dibuat hanya untuk memenuhi kebutuhan praktis saat itu saja, bukan untuk pemakaian jangka panjang dan dalam waktu relatif singkat akan dibuang.
Temuan Gerabah
Temuan gerabah merupakan hasil survei dan penggalian yang dilakukan di sejumlah situs di Kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat.
Jumlah yang didata sebanyak 8.251 fragmen yang ditemukan pada 23 gua/ceruk.
Indikasi adanya hunian gua pada Kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat juga ditunjukkan oleh temuan pecahan gerabah berhias di Liang Kaung pada tahun 1993.
Pecahan bagian badan tersebut berhias motif geometris (tulang ikan, sisir, garis geometris dan garis bersilang) dengan teknik pukul dan tekan.
Di permukaan lantai gua Liang Jon juga ditemukan pecahan tembikar berhias dengan teknik gores dan cungkil.
Penggalian di Liang abu tahun 2012 menghasilkan temuan gerabah yang berasosiasi dengan alat-alat batu, manik-manik, kerang, dan sisa-sisa hewan.
Temuan gerabah terdiri dari pecaha bibir, badan, bahu, karinasi, dan kaki.