viral

Mbok Yem dan Sejarah Legenda Warung di Puncak Gunung Lawu yang ‘Mahal’

Kamis, 24 April 2025 | 12:10 WIB
Mbok Yem meninggal dunia, ia adalah pemilik warung di Puncak Gunung Lawu. (Kalimantansatu.com/Dok. Tangkapan layar IG @pendaki_legal)

Sejarah warung Mbok Yem dimulai sejak era 1980-an. Saat itu, ia bukan penjaga puncak, melainkan pedagang sembako di kampung.

Aktivitas naik gunung awalnya dilakukan untuk mencari bahan jamu dan rempah dari hutan Lawu.

Dari kebiasaan itu, perlahan-lahan ia membangun pondok kecil yang kemudian berkembang menjadi warung sederhana.

Warung tersebut menjadi semacam “rumah kedua” bagi para pendaki.

Baca Juga: Setelah Viral Skandal Dugaan Kekerasan, Mantan Pawang Gajah Bongkar Sifat Asli Pimpinan OCI Taman Safari Indonesia

Di sana, para pendaki bisa menemukan nasi hangat, teh manis, mie instan, hingga obrolan ringan yang menghangatkan suasana di tengah suhu dingin Lawu.

Lokasinya hanya terpaut sekitar 115 meter di bawah titik tertinggi Gunung Lawu.

Bukan sekadar tempat jualan, warung Mbok Yem menjadi ruang persinggahan yang sarat makna.

Ia menyambut siapa pun dengan keramahan khas nenek Jawa Timur.

Tidak ada yang pulang dari Lawu tanpa mendengar kisah Mbok Yem, atau mencicipi teh hangat buatannya yang terasa istimewa di tengah dinginnya kabut.

Bagi banyak pendaki, Mbok Yem bukan hanya penjaja makanan. Ia adalah simbol semangat, kehangatan, dan dedikasi.

Meski hanya tinggal di puncak gunung dengan fasilitas sederhana, Mbok Yem telah memberi arti lebih pada perjalanan spiritual dan fisik para pendaki.

Baca Juga: Inisiasi Gerakan Indonesia Menanam (Gerina), Ustaz Adi Hidayat: Presiden Tidak Bisa Sendirian

Kebanyakan orang tua memilih tinggal nyaman bersama anak-cucu di rumah saat usia senja. Namun tidak dengan Mbok Yem.

Ia justru memilih menetap di gunung, menyatu dengan alam, sambil melayani tamu-tamunya yang datang dari seluruh penjuru negeri. Ia hanya pulang sesekali, biasanya saat hari raya Idulfitri.

Halaman:

Tags

Terkini