Ini Alasan Madu Bisa Menjadi Menu Pendamping MBG Menurut Kementerian UMKM

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Jumat, 17 Oktober 2025 | 10:33 WIB
Ilustrasi madu menjadi menu pendamping Makan Bergizi Gratis (MBG). (Tim Produksi Kalimantansatu.com via Gemini AI)
Ilustrasi madu menjadi menu pendamping Makan Bergizi Gratis (MBG). (Tim Produksi Kalimantansatu.com via Gemini AI)

KALIMANTANSATU.COM - Madu dianggap memiliki potensi besar untuk menjadi komponen penting dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hal ini berkat kandungan nutrisinya yang kaya energi, vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif.

“Pengintegrasian madu dalam Program MBG tidak hanya memperkaya kualitas gizi, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi melalui pemanfaatan produk lokal yang berkelanjutan,” ungkap Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana saat acara daring Konsultasi Pemanfaatan Teknologi dalam Rangka Mendukung Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) di Semarang, Rabu (9/10/2025).

Baca Juga: Menteri UMKM Maman Abdurrahman Dorong Madu Jadi Alternatif Menu MBG, Ini Alasannya

Saat ini, masih terdapat kesenjangan antara kebutuhan dan produksi madu nasional.

Berdasarkan Data Kementerian UMKM, jelas dia, kebutuhan madu di Indonesia mencapai sekitar 7.500 ton per tahun, dengan asumsi konsumsi per kapita sebesar 30 gram per tahun.

Namun, produksi nasional baru sekitar 2.000 ton per tahun.

“Artinya, masih ada ruang besar untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas madu lokal,” terangnya.

Baca Juga: Alasan Prabowo Subianto Optimis Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Lewat Makan Bergizi Gratis (MBG) ! Klaim Ada Kaitannya dengan Lapangan Kerja

Sebagai langkah konkret, Kementerian UMKM terus mengembangkan pendekatan hilirisasi komoditas unggulan melalui program Rumah Produksi Bersama (RPB) atau Factory Sharing, yang telah berjalan di 16 kabupaten/provinsi sejak 2022 hingga 2024.

Melalui program ini, lanjut dia, para pengusaha UMKM dapat mengakses fasilitas produksi bersama, pelatihan teknologi, dan sertifikasi mutu untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing produk.

Kementerian UMKM optimistis bahwa dengan hilirisasi yang didukung inovasi dan kolaborasi lintas sektor, madu lokal dapat menjadi produk unggulan yang berdaya saing tinggi, berkontribusi langsung pada program nasional MBG, serta membuka peluang ekspor di pasar global.

Baca Juga: Apa itu Batpay ? Dipuji Menteri UMKM Maman Abdurrahman Karena Menghadirkan Layanan Transaksi Digital dengan Pencairan Dana di Hari yang Sama

“Inovasi dan kolaborasi akan menjadi kunci agar madu Indonesia tidak hanya menjadi konsumsi domestik, tetapi juga dikenal di pasar dunia,” ujar Menteri Maman.

Potensi Pangan Lokal MBG

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X