Keunggulan tersebut sangat penting karena kerusakan sekecil apapun dapat mempercepat pembusukan dan menurunkan mutu buah.
Setelah penyisiran, tahap pasca panen selanjutnya adalah sortasi dan grading buah sesuai standar mutu pasar.
Buah dicuci untuk menghilangkan getah dan kemudian dikering-anginkan, pada skala besar proses pengeringan dapat juga menggunakan mesin pengering.
Jika diperlukan, pemeraman buah dapat dilakukan untuk mengatur tingkat kematangan.
Apabila pasar menginginkan kematangan seragam dalam jumlah besar, proses pemeraman dapat menggunakan tambahan gas etilen yang mampu merangsang pematangan secara alami.
Pisang yang siap dipasarkan selanjutnya dikemas menggunakan kemasan seperti karton bergelombang (corrugated fibre box), styrofoam, dan keranjang plastik atau peti yang dilengkapi lapisan lembaran plastik berlubang (perforator).
Pelapisan bagian dalam kemasan bermanfaat untuk mengurangi gesekan antar buah sekaligus menambah kekuatan wadah kemasan.
Selama proses pengangkutan dan distribusi, kondisi buah harus benar-benar terjaga agar bentuk fisik tidak mengalami kerusakan yang dapat menurunkan nilai jual.
Implementasi inovasi teknologi berupa alat bantu panen dan pasca panen memberikan dampak nyata dalam kemudahan pekerjaan petani sekaligus meningkatkan standar mutu hasil panen.
Kualitas fisik buah pisang dapat terjaga mulai dari pencegahan penyakit dan serangga saat prapanen, minimalisir kerusakan dan memar buah, hingga mempertahankan kesegaran dan umur simpan yang maksimal.
Dengan begitu, peningkatan peluang, daya saing pasar, dan kesejahteraan ekonomi petani dapat terwujud.
Sumber:
- Anomsari, S.D., dkk.(2023). Petunjuk teknis panen dan pascapanen pisang terstandar. Badan Standardisasi Instrumen Pertanian Jawa Tengah.
- Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. (2018). 600 teknologi inovatif pertanian. IAARD Press.
(R. Ridho Triwi D.N)