Ada Demo Mahasiswa Soal Harga BBM, Qodari : Prabowo Siapkan Berbagai Strategi Menuju Ketahanan Energi

photo author
Prabu Warah, Kalimantan Satu
- Senin, 15 Juni 2026 | 12:35 WIB
Foto Ilustrasi BBM. (Kalimantansatu.com/Dok. Freepik)
Foto Ilustrasi BBM. (Kalimantansatu.com/Dok. Freepik)

Baca Juga: Kini Kamu Bisa Dukung Kalimantansatu.com Lewat Traktir Kopi, Fitur Sederhana yang Bikin Semakin Dekat Dengan Pembaca Lintas Generasi

KALIMANTANSATU.COM, JAKARTA - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Kabakom) Muhammad Qodari menanggapi protes mahasiswa terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Ia menegaskan keputusan menaikkan harga BBM nonsubsidi yakni Pertamax dan Pertamax Green ini tidak lepas dari kondisi global.

Menurutnya, Presiden RI Prabowo Subianto telah menyiapkan berbagai strategi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.

Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan besar di sektor energi karena produksi minyak domestik belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.

Baca Juga: Ketika Petani Papua Dukung Program Cetak Sawah Rakyat untuk Memenuhi Kebutuhan Pangan Anggap Jawab Perubahan Zaman

"Kalau soal BBM, faktor dari luar negeri sangat besar karena de facto kita sebagai bangsa ini memang ketinggalan," ujar Qodari, Sabtu (13/6/2026).

Menurutnya, Prabowo sejak awal menempatkan kemandirian energi sebagai salah satu agenda utama pemerintahannya.

Karena itu, berbagai kebijakan disiapkan untuk mengurangi kebergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari luar negeri.

Qodari mengatakan upaya tersebut merupakan bagian dari reformasi struktural yang tengah dijalankan pemerintah, sejalan dengan target mewujudkan ketahanan pangan dan ketahanan energi.

“Bangsa ini harus mandiri. Bangsa ini harus maju. Lepas dari ketergantungan pangan, lepas dari ketergantungan energi. Itu kan semua (usaha) Pak Prabowo," kata Qodari.

Baca Juga: Dasco Ajak Masyarakat Jual Dollar, Pekan Depan Rupiah Diprediksi Lebih Menguat

Ia mencontohkan keberhasilan pemerintah dalam memperkuat sektor pangan melalui peningkatan produksi beras dan pupuk. Namun, menurutnya, tantangan di sektor energi jauh lebih kompleks karena tingginya kebergantungan terhadap impor minyak.

"Soal energi pasti lebih sulit. Kenapa? Karena memang impor kita sangat besar. Kebutuhan kita sehari 1,6 juta liter, tapi kita cuma bisa produksi 600 ribu," katanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Prabu Warah

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X