Sebagai informasi, perdagangan saham PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) di Bursa Efek Indonesia juga disuspensi sejak tahun 2022.
Sejarah Sritex
Awalnya, Sritex didirikan oleh H.M Lukminto sebagai perusahaan perdagangan tradisional di Pasar Klewer, Solo pada 1966 silam.
Pabrik cetak pertama Sritex yang menghasilkan kain putih dan berwarna di Solo dibuka pada 1968.
Sritex terdaftar dalam Kementrian Perdagangan sebagai perseroan terbatas pada 1978.
Kemudian, Sritex semakin berkembang hingga berhasil mendirikan pabrik tenun pertama pada 1982.
Bisnis semakin meluas, pabrik Sritex berkembang dengan 4 lini produksi (pemintalan, penenunan, sentuhan akhir dan busana) dalam satu atap pada 1992.
Selanjutnya, Sritex pernah menjadi produsen seragam militer untuk NATO dan Tentara Jerman pada 1994.
Saat krisis moneter tahun 1998, Sritex berhasil selamat pada tahun 2001 dan berhasil melipatgandakan pertumbuhannya sampai 8 kali lipat dibanding waktu pertama kali terintegrasi pada tahun 1992.
Di kancah internasional dengan derasnya persaingan global, Sritex mampu menaklukkan segala tantangannya pada tahun 2010.
Pada tahun 2012, Sritex berhasil menggandakan pertumbuhan dan kinerjanya dibanding pada tahun 2008.
Lalu pada tahun 2013, PT Sri Rejeki Isman Tbk secara resmi terdaftar sahamnya (dengan kode ticker dan SRIL) pada Bursa Efek Indonesia.
Atas berbagai pencapaian tersebut, Iwan S Lukminto menerima penghargaan sebagai Businessman of the Year dari majalah Forbes Indonesia dan sebagai EY Entreprenuer of the Year 2014 dari Ernst & Young pada tahun 2014.
Sejumlah penghargaan kembali diraih oleh Sritex pada tahun 2015, diantaranya dari Museum Rekor Indonesia sebagai Pelopor dan Penyelenggara Penciptaan Investor Saham Terbesar Dalam Perusahaan, Intellectual Property Rights Award 2015 dalam kategori piala IP Enterprise dari WIPO (World Intellectual Property Organization), dan Top Performing Listed Companies in Textile and Garment Sector pada tahun 2015 dari Majalah Investor.