ekonomi-bisnis

Elon Musk Gagal Merayu Donald Trump Untuk Batalkan Tarif Impor, Ekonom Prediksi Harga Mobil akan Meroket

Kamis, 10 April 2025 | 05:53 WIB
Presiden terpilih 2024-2029 Prabowo Subianto akrab dengan Elon Musk saat 10th World Water Forum (WWF) 2024 di Nusa Dua Bali, Senin 20 Mei 2024. (Kalimantansatu.com/Dok. Prabowo Subianto)

KALIMANTANSATU.COM - Kebijakan tarif impor baru yang diluncurkan oleh Presiden Donald Trump menuai sorotan tajam dari kalangan ekonom.

Mereka menilai langkah ini berisiko memperburuk inflasi dan menyulitkan masyarakat Amerika secara ekonomi.

Reuters melaporkan, para analis memperkirakan tarif ini bisa memicu inflasi, meningkatkan risiko resesi, dan menambah beban biaya hidup keluarga di AS hingga ribuan dollar.

Padahal, Trump tengah berkampanye dengan janji utama: menurunkan biaya hidup.

Seorang pakar ekonomi dari MSU Denver, Dr. Kishore Kulkarni, memperingatkan bahwa dampak kenaikan tarif akan segera dirasakan.

Baca Juga: Tok ! Tarif Resiprokal Presiden Amerika Serikat Donald Trump Berlaku Hari Ini, Termasuk Aturan Impor 104 Persen ke China

“Tidak diragukan lagi, harga mobil pekan depan akan lebih mahal ketimbang hari ini,” ujar Kulkarni, dikutip dari CBS News, Selasa 8 April 2025.

Menurut Kulkarni, tarif ini tak hanya berdampak pada mobil impor, tetapi juga mobil buatan lokal.

Sebab, industri otomotif merupakan sektor kompleks yang tetap bergantung pada komponen dari berbagai negara.

"Untuk banyak mobil, perakitan ada di suatu tempat, mesinnya dari suatu tempat, suku cadang bodinya ada di suatu tempat,” tambahnya.

“Jadi jelas, mobil adalah komoditas yang sangat kompleks yang membutuhkan banyak barang impor dan input impor, dan oleh karena itu, perusahaan mobil akan menemukan cara untuk beradaptasi dengan semua ini," jelas Kulkarni.

Ia menambahkan, bahkan Tesla yang selama ini dianggap sebagai produk asli Amerika pun masih mengandalkan suku cadang dari luar negeri.

Hal ini menegaskan bahwa kebijakan tarif baru bisa menjadi boomerang, bukan hanya bagi pesaing asing, tapi juga perusahaan dalam negeri.

(*)

Tags

Terkini