ekonomi-bisnis

Dari WALHI hingga Akademisi Menyoroti Pencemaran Teluk Buli, Minta Pemerintah Audit Aktivitas PT Feni Halmahera Timur

Sabtu, 30 Mei 2026 | 15:46 WIB
Dugaan pencemaran lingkungan oleh PT Feni Halmahera Timur di Teluk Buli. (Dok. Salawaku Institut)

Mahawan menjelaskan bahwa seluruh risiko terkait limpasan air dan sedimentasi harus sudah diantisipasi sejak tahap perencanaan melalui dokumen lingkungan yang dimiliki perusahaan.

“Sebagai proyek strategis nasional, standar kepatuhan, transparansi, dan akuntabilitas lingkungan itu harus lebih tinggi, bukan lebih longgar,” ujarnya.

Baca Juga: Skandal Dugaan KPR Fiktif di BTN Karawang Menyeruak ! 481 Debitur Diduga Terlibat Praktik 'Pinjam Nama' hingga Manipulasi Data, Developer Terseret

Sistem Tak Berfungsi Optimal

Sementara itu, Lembaga Advokasi Tambang dan Laut (Latamla) juga menyoroti dugaan pencemaran yang terjadi di Kali Kukuba. Direktur Latamla, Faiz Albaar, menduga sedimentasi yang mengalir ke kawasan perairan berasal dari sistem pengendalian lingkungan yang tidak berfungsi optimal.

Menurut Faiz, keberadaan check dam yang melintasi aliran Kali Kukuba seharusnya mampu menahan sedimentasi berupa lumpur dan pasir agar tidak mengalir ke wilayah hilir dan perairan pesisir.

“PT FHT wajib melindungi lingkungan sekitar dari dampak aktivitas perusahaan. Kali Kukuba sebagai nadi utama habitat laut di Teluk Buli harus diselamatkan dan wajib lestari,” kata Faiz.

Desakan juga datang dari Koalisi Masyarakat Sipil Selamatkan Tambang (KSST). Koordinator KSST, Ronald Lobloby, menilai persoalan yang terjadi tidak bisa dipandang sebagai insiden biasa karena menyangkut keberlanjutan ekosistem pesisir dan tata kelola pertambangan di wilayah tersebut.

Di tengah meningkatnya perhatian publik, Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur telah meminta pihak perusahaan mengambil langkah cepat untuk menangani persoalan yang berkembang. Pemerintah daerah juga menyatakan akan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi lingkungan di kawasan tersebut.

Menanggapi berbagai tudingan yang muncul, PT Feni Halmahera Timur menyatakan telah melakukan evaluasi internal dan pemeriksaan lapangan terkait kondisi perairan di Teluk Buli. Perusahaan menyebut perubahan warna air dipengaruhi tingginya intensitas curah hujan dalam beberapa waktu terakhir.

Manajemen perusahaan mengaku telah menurunkan tim teknis dan tim lingkungan untuk melakukan investigasi lebih lanjut, sekaligus mengevaluasi sistem pengendalian sedimentasi dan infrastruktur pendukung lainnya.

Baca Juga: Fokus Benahi Transparansi Transaksi ! PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) Dibentuk Untuk Cegah Kecurangan Ekspor atau Under Invoicing

Selain itu, perusahaan menyatakan terbuka terhadap proses verifikasi, evaluasi, maupun arahan dari pemerintah dan instansi terkait guna memastikan penanganan dilakukan secara objektif dan berbasis data lapangan.

Hingga kini, berbagai pihak masih menunggu hasil evaluasi dan pemeriksaan yang dilakukan pemerintah untuk memastikan penyebab pasti perubahan kondisi perairan di kawasan Kali Kukuba dan Teluk Buli.

Namun satu hal yang mulai mengemuka adalah tuntutan agar aktivitas pertambangan di kawasan strategis nasional tetap berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap prinsip perlindungan lingkungan dan keberlanjutan ekosistem pesisir.

Halaman:

Tags

Terkini