BYD menerapkan metode full to full, yakni mengisi kembali tangki hingga penuh di SPBU untuk mengetahui jumlah bensin yang benar-benar terpakai selama perjalanan. Hasilnya cukup menarik.
Untuk menempuh jarak sekitar 152 kilometer, bensin yang masuk ke tangki hanya 2,19 liter Pertamax atau senilai Rp35.590.
Tidak Bisa Dinilai dari Bensin Saja
Meski demikian, konsumsi bensin bukan satu-satunya indikator efisiensi pada BYD M6 DM. Sebagai plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), mobil ini juga mengandalkan tenaga listrik sebagai sumber penggerak utama.
Perjalanan dimulai dengan kondisi baterai terisi penuh 100 persen.
Hingga mencapai kawasan Ciater, kapasitas baterai turun menjadi sekitar 20 persen. Saat perjalanan kembali menuju Bandung, sistem regenerative braking memanfaatkan energi deselerasi untuk mengisi ulang baterai sehingga kapasitasnya kembali meningkat menjadi 27 persen saat finis.
Selama pengujian, mesin bensin baru aktif ketika sistem membutuhkan tenaga tambahan, terutama saat kapasitas baterai mulai menipis atau ketika kendaraan menghadapi beban lebih besar seperti tanjakan dan akselerasi.
Dengan kapasitas baterai 18,3 kWh, energi listrik yang digunakan selama perjalanan diperkirakan sekitar 13,36 kWh atau sekitar 73 persen dari kapasitas total baterai.
Jika menggunakan tarif listrik rumah sekitar Rp2.400 per kWh, biaya listrik yang digunakan berkisar Rp32 ribu.
Artinya, total biaya energi yang dikeluarkan untuk perjalanan sejauh 152 kilometer mencapai sekitar Rp67.600, gabungan antara biaya pengisian listrik dan bensin.
Jika dirata-ratakan, biaya perjalanan tersebut berada di kisaran Rp445 per kilometer.
Lebih Relevan Menghitung Total Energi
Pengujian ini memang tidak dimaksudkan untuk menghasilkan angka konsumsi energi terbaik. Gaya mengemudi, karakter jalan, kepadatan lalu lintas, hingga beban kendaraan merupakan variabel yang sulit diseragamkan.