investasi

Strategi Dividend Investing 2026: Cara Membangun 'Gaji Kedua' Pasif dari Saham di Bursa Efek Indonesia (IDX), Untuk yang Bosan Menunggu Capital Gain

Senin, 17 Agustus 2026 | 21:19 WIB
ILUSTRASI INVESTASI - Strategi Dividend Investing 2026: Cara Membangun 'Gaji Kedua' Pasif dari Saham di Bursa Efek Indonesia (IDX), Untuk yang Bosan Menunggu Capital Gain (Kalimantansatu.com/Dok. Pixabay nattanan23)

KALIMANTANSATU.COM - Bagaimana cara membangun arus kas pasif (passive income) yang stabil melalui strategi dividend investing di Bursa Efek Indonesia (BEI)? Temukan ulasannya, investor pemula wajib paham!

Perlu diketahui bahwa strategi dividend investing dilakukan dengan membeli saham perusahaan berfundamental kuat yang memiliki rekam jejak membagikan dividen secara rutin dan konsisten.

Untuk memaksimalkan hasil, investor perlu memilih emiten dengan Dividend Yield di atas rata-rata suku bunga acuan bank, Dividend Payout Ratio (DPR) yang sehat di kisaran 30–70%, serta menginvestasikan kembali (reinvest) seluruh hasil dividen guna memicu efek bergulir (compounding effect).

Baca Juga: Analisis Fundamental vs Teknikal Saham: Mana Strategi Terbaik untuk Trader & Investor? Bedah Tuntas! Rahasia Timing Beli Saham Paling Cuan

Menembus Keterbatasan Capital Gain dengan Cash Flow Pasti

Sebagian besar investor pemula masuk ke pasar saham dengan harapan meraih keuntungan dari selisih harga jual dan beli (capital gain).

Namun, strategi ini memerlukan ketepatan timing pasar dan berhadapan langsung dengan risiko volatilitas fluktuasi harga harian.

Ketika indeks pasar saham sedang menguji area koreksi atau sideways, investor yang hanya mengejar capital gain sering kali merasa cemas dan tidak memperoleh hasil.

Di sinilah strategi Dividend Investing hadir sebagai alternatif yang memikat.

Dibandingkan bergantung pada ketidakpastian harga di layar perdagangan, investor dividen berfokus pada penerimaan arus kas nyata (cash flow) yang masuk secara berkala ke rekening dana nasabah.

Bagi para profesional, pekerja mandiri, hingga pensiunan, dividen saham kerap dijadikan modal utama untuk membangun "gaji kedua" yang bekerja secara otomatis.

Baca Juga: Investasi Saham Blue Chip vs Growth Stock untuk Pemula: Mana Lebih Ideal? Kenali Karakteristik Utama, Perbandingan Langsung Hingga Strategi Kombinasi

Tiga Indikator Utama Memilih Saham Pembagi Dividen Segar

Tidak semua saham yang membagikan dividen layak untuk dikoleksi dalam jangka panjang. Banyak pemula terjebak oleh dividend trap—situasi di mana saham memberikan dividen tinggi hanya karena harga sahamnya sedang anjlok drastis atau akibat keuntungan sesaat dari penjualan aset.

Untuk menghindari jebakan tersebut, investor harus mengukur tiga parameter kualitatif dan kuantitatif berikut:

  • Dividend Yield (Tingkat Imbal Hasil Dividen): Persentase dividen tahunan dibandingkan dengan harga saham saat ini. Target yield yang ideal adalah berada di atas tingkat inflasi dan suku bunga deposito perbankan (umumnya di kisaran 5% hingga 9% per tahun).

Halaman:

Tags

Terkini