Jejak Sejarah Dakwah Islam di Jembrana Bali, Wisata Religi Makam Buyut Lebai dan Ustaz Ali Bafaqih

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Rabu, 16 Juli 2025 | 14:59 WIB
Makam Buyut Lebai di Loloan Timur, Jembrana, Bali. (Kalimantansatu.com/Dok. Pemprov Bali)
Makam Buyut Lebai di Loloan Timur, Jembrana, Bali. (Kalimantansatu.com/Dok. Pemprov Bali)

KALIMANTANSATU.COM - Tradisi ziarah menjadi budaya yang hidup dan lestari di kalangan masyarakat Indonesia, termasuk di wilayah ujung barat Bali.

Di tengah dominasi budaya Hindu, wilayah Jembrana justru menyimpan jejak penyebaran Islam yang kuat, terutama di kawasan Kampung Loloan.

Dua makam keramat yang menjadi saksi sejarah dakwah Islam di tanah Bali, yakni pusara tua Buyut Lebai dan makam Ustaz Ali Bafaqih.

Kedua makam ini menjadi destinasi wisata religi yang terus dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.

Tak hanya untuk mendoakan, tetapi juga menapaktilasi perjuangan para tokoh Islam dalam menyebarkan ajaran di tanah Bali sejak abad ke-17.

Baca Juga: Mengenal Puri Agung Negara Lokasi Wisata Budaya di Bali Barat, Napak Tilas Kerajaan Jembrana di Balik Gaya Arsitektur Khas Belanda

Lokasinya terpisah namun sama-sama berada di Kecamatan Negara, Jembrana. Berikut ulasan selengkapnya:

1. Pusara Tua Buyut Lebai

Buyut Lebai atau yang memiliki nama lengkap Datuk Dawam Sirojuddin memiliki tempat peristirahatan terakhir di Jalan Gunung Agung, Kelurahan Loloan Timur, hanya sekitar 2,5 kilometer dari pusat Kota Negara.

Buyut Lebai dikenal sebagai ulama besar asal Sarawak, Malaysia, yang diizinkan menyebarkan Islam oleh penguasa setempat kala itu. Ia lahir pada tahun 1619 M dan wafat pada tahun 1744 M silam.

Di sekitar makamnya, juga terdapat pusara para tokoh Islam lainnya yang dipercaya sebagai rombongan pertama penyebar Islam di Jembrana.

Baca Juga: Sentra Tenun Jembrana Menjadi Rekomendasi Lokasi Wisata Budaya di Bali. Markas Kelestarian Seni Tenun dan Songket Khas Bali, Memutar Roda Ekonomi

2. Makam Ustaz Ali Bafaqih

Pada sisi barat Kampung Loloan, tepatnya di Jalan Nangka No. 145, Desa Loloan Barat, berdiri Pondok Pesantren Syamsul Huda, tempat bersemayamnya Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih.

Sosok ulama kharismatik ini lahir di Banyuwangi pada 1 Januari 1882 dan wafat di usia 117 tahun, pada 22 Februari 1999 silam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X