KALIMANTANSATU.COM - Bagaimana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merusak perekonomian suatu daerah? Mari kita ulas, ternyata karhutla tidak hanya berdampak kepada kesehatan masyarakat.
Bencana kabut asap akibat karhutla memicu kerugian ekonomi multisektor secara signifikan.
Dampak utamanya meliputi kelumpuhan transportasi logistik dan penerbangan, penurunan drastis pendapatan sektor pariwisata dan UMKM, pembengkakan biaya kesehatan masyarakat, serta merosotnya tingkat produktivitas tenaga kerja akibat gangguan saluran pernapasan.
Bencana Lingkungan Jadi Krisis Ekonomi
Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) merupakan bencana tahunan yang berulang kali melanda sejumlah wilayah strategis di Indonesia, khususnya di Pulau Sumatra dan Kalimantan.
Selama ini, perhatian publik dan pemangku kebijakan sering kali tertuju pada dampak ekologis dan risiko kesehatan masyarakat.
Padahal, krisis kabut asap (haze) yang ditimbulkan oleh karhutla memiliki efek domino yang sangat destruktif terhadap roda perekonomian lokal maupun nasional.
Bank Dunia bahkan mencatat bahwa kerugian ekonomi langsung dan tidak langsung akibat bencana karhutla besar di Indonesia mampu menembus angka ratusan triliun rupiah, menghambat laju pertumbuhan ekonomi daerah hingga beberapa kuartal.
Sektor-Sektor Ekonomi yang Paling Rentan Terdampak Karhutla
Tidak dipungkiri kabut asap pekat membatasi jarak pandang (visibility) dan menurunkan kualitas udara secara drastis.
Kondisi ekstrem ini merusak rantai pasok dan aktivitas bisnis secara simultan di berbagai lini, antara lain:
- Sektor Transportasi dan Logistik: Pembatalan dan penundaan (delay) penerbangan di bandara-bandara daerah terdampak menjadi pemicu utama gangguan arus barang dan jasa. Selain udara, transportasi darat dan sungai juga terhambat akibat risiko kecelakaan yang tinggi, membengkakkan biaya pengiriman logistik.
- Sektor Pariwisata, Perhotelan, dan UMKM: Tingkat okupansi hotel merosot drastis akibat pembatalan kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara. Pelaku UMKM di bidang kuliner, kerajinan, dan jasa hiburan kehilangan omzet karena masyarakat memilih berdiam di dalam rumah.
- Sektor Pertanian dan Perkebunan: Paparan asap tebal menghalangi sinar matahari yang dibutuhkan tanaman untuk proses fotosintesis, sehingga menurunkan hasil panen komoditas perkebunan dan pertanian lokal.
Karhutla Menjadi Ancaman Pembengkakan Biaya Kesehatan dan Produktivitas Kerja
Dampak ekonomi yang sering kali luput dari kalkulasi sederhana adalah hidden cost atau biaya tersembunyi di bidang kesehatan dan tenaga kerja akibat karhutla, antara lain :
Artikel Terkait
Harga CPO Naik di Kisaran MYR 4.860/Ton: Impor Minyak Nabati India Melonjak, Stok Malaysia Tembus Rekor
Sukses Pasok Baterai Molinas Alva, Dua IKM Binaan Kemenperin Masuk Ekosistem Motor Listrik ! Strategi Perluas Lokalisasi Komponen Kendaraan Listrik
Menilik Kinerja Industri Tekstil 2026: Ekspor Capai USD 4,85 Miliar dan Serap 3,8 Juta Tenaga Kerja ! Kemenperin Target Menang Kompetisi Global
Kemendag Naikkan HPE Emas Periode II Agustus 2026 Jadi USD 131.777 per Kilogram, Terkerek Penurunan Suku Bunga Dunia
Skema KPPS Permenko 7/2026: Bunga Kredit Perempuan Prasejahtera Dipangkas Jadi 8 Persen, Solusi Modal Usaha Ultra Mikro Tanpa Agunan Tambahan
Omzet Bisnis Stagnan? Ini 5 Tips Bisnis Efektif untuk Akselerasi Penjualan dan Skalabilitas Usaha, Taktis Melipatgandakan Penjualan Tanpa Bakar Uang
Transaksi Tembus Rp1,12 Kuadriliun! Bank Indonesia Rilis Kartu Kredit Indonesia Berbasis QRIS dan Perluas Bebas Biaya MDR 0% Mulai 1 Oktober 2026