Oleh karena itu, mereka akan menyiasatinya dengan memperbesar likuiditas aset tersebut.
Caranya, mereka menyebarkan hype terhadap aset yang hendak dijual.
Jika berhasil, hype tersebut bisa membuat investor tertarik membeli asetnya karena dorongan FOMO.
Dengan adanya pembeli yang standby, whale bisa menjual aset yang dimiliki tanpa khawatir harganya akan jatuh secara signifikan.
Namun, ketika hype-nya selesai, harga aset dan likuiditasya mengalami penurunan drastis.
Para whale tidak akan dirugikan karena sudah menjual aset saat harganya masih tinggi.
Sementara para investor yang baru membeli aset tersebut, akan merugi karena membeli di saat harga aset tinggi.
Dalam konteks ini, para investor baru yang terjebak kemudian disebut sebagai exit liquidity-nya para whale.
(Tim Kalimantan Satu 02)