ekonomi-bisnis

US$20 Miliar Melayang ! Asuransi Asia Hadapi Keterbatasan Pembayaran Klaim di Tengah Kerugian Ekonomi 2024

Sabtu, 17 Mei 2025 | 21:35 WIB
Foto Ilustrasi. Industri asuransi Asia mengalami disrupsi akibat kerugian ekonomi di 2024. (Kalimantansatu.com/Dok. Pixabay Oleg Gamulinski)

KALIMANTANSATU.COM - Industri asuransi global diguncang hebat sepanjang 2024 akibat cuaca ekstrem yang makin tak terkendali.

Laporan terbaru WTW mengungkapkan bahwa total kerugian ekonomi akibat bencana cuaca
mencapai lebih dari US$20 miliar atau sekira Rp328 triliun, namun hanya US$2 hingga $3 miliar
yang mampu diklaim melalui asuransi, angka yang sangat kecil dibandingkan dampak
Sesungguhnya.

Mengutip Insurance Asia, Kamis, 15 Mei 2025, musim topan 2024 di kawasan Pasifik Utara
mencatatkan 23 badai tropis, dengan 15 meningkat menjadi topan dan 9 di antaranya
berintensitas tinggi.

Baca Juga: Negosiasi Perdamaian Rusia-Ukraina Mandek, Gara-gara Tuntutan Moskwa Dinilai Tidak Masuk Akal

Meski jumlah tersebut sedikit lebih rendah dari rerata tahunan, kerusakan fisik dan ekonomi jauh lebih besar akibat intensitas dan lokasi pendaratan badai.

Salah satu kasus paling mencolok adalah Topan Yagi, yang memporakporandakan wilayah
Asia Tenggara, menyebabkan 1.200 korban jiwa dan mencatatkan kerugian ekonomi hingga
US$15 miliar.

Ironisnya, hanya sekitar US$1 miliar dari angka itu yang dijamin oleh polis
Asuransi, mencerminkan jurang besar dalam perlindungan asuransi di Asia.

Wilayah China Selatan dan Vietnam menjadi sorotan karena rendahnya penetrasi asuransi,
padahal Topan Yagi melaju dengan kecepatan hingga 160 mph, menjadikannya salah satu
badai terkuat yang pernah menghantam Vietnam dan Hainan.

Baca Juga: Gelar RUPST, BSI Tetapkan Dividen Total Rp1,05 Triliun Sekaligus Angkat Anggoro Eko Cahyo Sebagai Dirut

Di Jepang, Topan Shanshan turut menciptakan kehancuran dengan intensitas tinggi, namun
nilai klaim asuransi tetap rendah, hanya di bawah US$1 miliar, karena wilayah terdampak
tidak memiliki eksposur perlindungan yang memadai.

Sementara itu, Filipina mengalami serangan beruntun dari enam badai dalam kurun 30 hari,
mempengaruhi lebih dari 13 juta penduduk dan menyebabkan kerugian senilai US$500 juta.

Lagi-lagi, minimnya kepemilikan asuransi membuat masyarakat tidak mendapatkan
perlindungan finansial yang memadai.

Kondisi ini menegaskan bahwa gap perlindungan asuransi di Asia semakin lebar, padahal
ancaman cuaca ekstrem kian meningkat.

Industri asuransi ditantang untuk memperluas
jangkauan, meningkatkan edukasi publik, dan mendorong pemerintah serta sektor swasta
memperkuat ketahanan keuangan menghadapi krisis iklim.

Baca Juga: Ingar Soal Pengerahan TNI di Kantor Kejaksaan, Istana Kepresidenan: Ini Biasa Saja

Halaman:

Tags

Terkini