ekonomi-bisnis

Targetkan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,1 Persen di 2025, Bank Indonesia Sebut Dua Faktor Ini Menjadi Mesin Utama Pendongkrak

Jumat, 22 Agustus 2025 | 07:13 WIB
Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan 5,1 persen ekonomi RI. (Kalimantansatu.com/Dok. Unsplash AiniRahmadini)

KALIMANTANSATU.COM - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menuturkan perekonomian RI diperkirakan bisa berada di kisaran 4,6 persen hingga 5,4 persen secara tahunan atau year on year (YoY).

Bahkan, capaian pertumbuhan diyakini mampu menembus angka di atas 5,1 persen.

Perry menjelaskan, proyeksi tersebut diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 19-20 Agustus 2025. Menurutnya, tren ekonomi nasional pada semester kedua tahun ini akan semakin baik, seiring dengan capaian positif di kuartal II 2025.

Baca Juga: Apa Kabar IKN Sekarang ? China Buka Peluang Bawa Investor untuk Bangun Infrastruktur dan Perumahan

Pada kuartal II 2025, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,12 persen YoY. Angka ini melebihi ekspektasi sebagian besar pelaku pasar maupun analis.

Pertumbuhan yang lebih tinggi dari kuartal I 2025 yang hanya 4,87 persen ini menjadi sinyal pemulihan yang kuat.

“Dengan kondisi ini, kami melihat pertumbuhan bisa di sekitar 5,1% atau bahkan lebih tinggi. Karena itu, sinergi antara kebijakan pemerintah dan BI harus terus diperkuat,” ujar Perry dalam konferensi pers daring RDG BI di Jakarta, pada Rabu, 20 Agustus 2025.

Gubernur BI juga menegaskan, bauran kebijakan menjadi kunci dalam menjaga momentum ekonomi.

Kebijakan itu meliputi penurunan suku bunga acuan, ekspansi likuiditas, insentif makroprudensial, serta percepatan digitalisasi sektor keuangan.

Baca Juga: QRIS Segera Bisa Dipakai di China pada Akhir 2025, Bank Indonesia Sebut Berlaku Dua Arah Inbound-Outbound

Perry menambahkan, ada beberapa faktor utama yang diperkirakan menopang pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2025.

Faktor tersebut antara lain kinerja ekspor yang tetap solid, belanja pemerintah yang kembali pulih, serta investasi yang meningkat.

Dari sisi ekspor, kondisi global memberikan peluang tambahan. Amerika Serikat menurunkan tarif impor dari 32 persen menjadi 19 persen, sehingga membuka ruang lebih besar bagi produk Indonesia untuk masuk ke pasar internasional.

“Ekspor pertambangan, kelapa sawit, serta produk pertanian dan perikanan diprediksi akan terus tumbuh,” jelas Perry.

Halaman:

Tags

Terkini