ekonomi-bisnis

Ini Alasan Anak Muda Gemar Thrifting Menurut Adian Napitupulu, Bentuk Perlawanan terhadap Krisis Air Bersih dan Polusi Tekstil

Rabu, 19 November 2025 | 20:02 WIB
Ilustrasi agak muda gemar belanja thrifting. (Kalimantansatu.com via Gemini AI)

"Dari data yang didapat ternyata industri tekstil itu menyumbang 20 persen kerusakan udara," kata Adian.

Menurutnya, angka-angka tersebut membuat pilihan generasi muda terhadap thrifting menjadi masuk akal.

Pria yang lahir di Manado itu menggambarkan cara pandang anak muda yang merasa bahwa jika tidak memiliki kemampuan memproduksi air bersih, setidaknya mereka berusaha mengurangi pemborosan air melalui pembelian pakaian bekas.

"Mungkin pikiran mereka begini: 'kalau saya tidak bisa membuat air bersih, saya tidak akan membuang air bersih. Kalau saya membeli jeans bekas, sama artinya saya menyelamatkan 2.700 liter air bersih,” ujar Adian.

Menurutnya, pemerintah sebagai regulator perlu memahami motivasi generasi muda secara komprehensif saat membuat kebijakan.

Baca Juga: Membongkar Gurita Bisnis Tambang Gubernur Sherly Tjoanda, JATAM Beberkan Konflik Kepentingan di Maluku Utara

"Jadi kita harus pahami, kita dan pemerintah sebagai regulator, dengan pemahaman yang komprehensif kita mengambil keputusan yang mewakili keadilan di masyarakat," kata Adian.

Purbaya Tekankan Risiko Impor Baju Bekas Terhadap Industri Domestik

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyoroti masuknya impor baju bekas yang marak dalam bentuk ballpress.

Menurutnya, praktik tersebut berpotensi merusak industri tekstil dan garmen dalam negeri.

Purbaya bahkan menyampaikan keinginannya untuk menertibkan praktik impor ilegal tersebut. Namun, ia mengaku mendapat penolakan dari banyak pedagang baju thrifting.

Mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan itu mengatakan bahwa memahami kondisi pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari bisnis pakaian bekas impor.

Meski demikian, Purbaya menekankan bahwa pemerintah tidak bisa hanya melihat satu sisi.

“Itu mereka mencari keuntungan jangka pendek aja. Dia untung, tapi industri mati," ungkap Purbaya dalam rapat Komite IV DPD di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta pada Senin, 3 November 2025 silam.

(*)

Halaman:

Tags

Terkini