Untuk mewujudkannya, diperlukan investasi awal sekitar Rp2,4 triliun yang mencakup pembangunan container yard, infrastruktur rel, serta fasilitas pendukung lainnya.
Selain itu, KEK Batang ditargetkan menjaring investasi hingga Rp60 triliun dalam 4–5 tahun ke depan.
“Dry port ini akan menjadi jantung layanan logistik terintegrasi bagi puluhan pabrik dan industri baru yang akan berdiri di kawasan ini,” pungkas Deputi Ali.
Sejak beroperasi, KITB telah menyerap 5.500 tenaga kerja dari enam perusahaan.
Dengan pengembangan Dry Port, penyerapan tenaga kerja diproyeksikan melonjak hingga 39.000 orang pada 2029.
Hal ini diharapkan mampu memberikan kontribusi besar bagi pengurangan pengangguran dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Deputi Ali menekankan pentingnya percepatan eksekusi MoU tersebut oleh seluruh pihak terkait.
Pemerintah, melalui Kemenko Perekonomian, berkomitmen untuk terus mendukung dan memfasilitasi penuh setiap proses agar iklim investasi dan usaha tetap kondusif.
(*)