KALIMANTANSATU.COM - PT Astra Internasional Tbk mengungkap cara menghadapi persaingan dengan produk Electric Vehicle (EV) atau kendaraan listrik asal China.
Dalam sesi konferensi pers Public Expose Tahun 2025 pada 27 Agustus 2025, Direktur Astra PT Astra Internasional Tbk Henry Tanoto tidak menampik persaingan di industri otomotif selalu ada.
Menurut Henry, justru persaingan itu positif bagi konsumen maupun perkembangan industri otomotif di Indonesia.
"Strategi Astra selalu konsisten dalam menghadapi persaingan dengan menghadirkan produk, teknologi, dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan yang bervariasi di seluruh Indonesia," ungkap Henry Tanoto dalam keterangan tertulis pada laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (2/9/2025).
Lanjut dia, hasilnya selama hampir 20 tahun, Astra mampu mempertahankan pangsa pasar di atas 50%.
Jika berbicara mengenai strategi produk, pihaknya melihat kebutuhan pelanggan yang beragam.
Pertama, dari faktor daya beli yang berbeda di kota besar, kota kecil dan rural areas.
Kedua, mengenai kebutuhan product package yang berbeda, seperti five-seater maupun seven-seater.
Ketiga, kesiapan infrastruktur di setiap wilayah yang juga berbeda.
"Contohnya, di kota besar terdapat jalan yang lebih baik dan charging station yang lebih siap dibandingkan wilayah lainnya," timpalnya.
Henry Tanoto bilang, saat ini penetrasi Battery Electric Vehicle (BEV) sebesar 10% dan hampir 90% terkonsentrasi di Jakarta dan kota besar lainnya.
Hal ini karena di kota besar, infrastruktur lebih siap dan daya beli yang lebih tinggi, sehingga banyak pembeli tambahan yang tidak terlalu sensitif terhadap resale value.
"Untuk hybrid dan ICE, yang mencakup sekitar 90% dari total penjualan otomotif nasional, persebarannya relatif merata di kota besar, kota kecil, maupun rural areas," jelas dia.