Neraca Perdagangan Indonesia Surplus Rp362,8 Triliun hingga Juli 2025 ! BPS Ungkap Komoditas Surplus Terbesar dan Defisit

photo author
Mas Abo Real, Kalimantan Satu
- Senin, 1 September 2025 | 17:29 WIB
Ilustrasi menghitung neraca keuangan. (Kalimantansatu.com/Dok. Pixabay stevepb)
Ilustrasi menghitung neraca keuangan. (Kalimantansatu.com/Dok. Pixabay stevepb)

KALIMANTANSATU.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia sepanjang Januari-Juli 2025 kembali mencatatkan kinerja positif.

Surplus perdagangan tercatat sebesar Rp362,8 triliun, memperpanjang tren surplus selama 63 bulan berturut-turut.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan bahwa capaian ini masih ditopang kuat oleh komoditas nonmigas.

"Surplus sepanjang Januari hingga Juli 2025 ditopang oleh surplus komoditas non migas sebesar US$34,06 miliar (Rp522,8 triliun)," kata Pudji dalam konferensi pers virtual, Senin 1 September 2025.

Baca Juga: Pastikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih di Jalur Positif Walaupun Rangkaian Aksi Aspirasi Terjadi, Airlangga Hartarto : Tetap Tenang dan Optimis

"Sementara untuk komoditas migas masih mengalami defisit US$10,41 miliar (Rp159,7 triliun)," imbuhnya.

Dari sisi mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai setara Rp160,6 triliun.

Posisi berikutnya ditempati India sebesar Rp123,8 triliun dan Filipina sebesar Rp78,2 triliun.

"Tiga negara penyumbang surplus terbesar adalah AS sebesar US$10,49 miliar (Rp161 triliun), kemudian India US$8,09 miliar (Rp124,1 triliun), berikutnya Filipina US$5,11 miliar (Rp78,4 triliun)," beber Pudji.

Berdasarkan komoditas, surplus terbesar berasal dari lemak dan minyak hewan/nabati senilai Rp294,3 triliun.

Komoditas lain yang menopang kinerja positif adalah bahan bakar mineral Rp236,7 triliun, besi dan baja Rp163,7 triliun, nikel Rp73,0 triliun, serta alas kaki Rp57,7 triliun.

Baca Juga: Program Prioritas Pemerintah Makin Gencar Dilakukan, Airlangga Hartarto Beberkan Taktik Stimulus Ekonomi Semester II 2025

Namun, sejumlah komoditas masih mencatatkan defisit, di antaranya mesin dan peralatan mekanis dengan nilai Rp240,2 triliun, mesin elektrik Rp97,3 triliun, serta plastik Rp67,2 triliun.

Dari sisi negara, defisit terdalam tercatat dengan China sebesar Rp184,5 triliun, disusul Singapura Rp52,2 triliun dan Australia Rp48,3 triliun.

Kinerja perdagangan ini sekaligus menunjukkan konsistensi ekspor Indonesia dalam menjaga neraca dagang tetap surplus di tengah dinamika ekonomi global.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Mas Abo Real

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X