Berikut ini skenario memilih Asuransi Jiwa vs Asuransi Kesehatan :
1. Skenario A: Anda Lajang dan Belum Punya Tanggungan
Jika Anda belum menikah, tidak membiayai orang tua (sandwich generation), dan tidak ada orang lain yang secara finansial bergantung pada penghasilan bulanan Anda, maka Asuransi Kesehatan adalah prioritas mutlak.
Alasannya, jika Anda jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit, tabungan Anda yang akan terkuras habis.
Sebaliknya, jika Anda meninggal dunia, tidak ada anggota keluarga yang kehilangan tumpuan finansial harian mereka.
Dalam kondisi ini, membeli asuransi jiwa adalah pemborosan premi yang belum diperlukan.
2. Skenario B: Anda Kepala Keluarga / Punya Tanggungan Finansial
Jika Anda sudah menikah, memiliki anak, atau menyokong biaya hidup orang tua, maka keduanya wajib dimiliki, namun asuransi kesehatan tetap harus aktif terlebih dahulu.
Alasannya, risiko sakit harian memicu kehancuran finansial mendadak yang kemungkinannya terjadi jauh lebih sering daripada kematian dini di usia produktif.
Namun, segera setelah proteksi kesehatan dasar (seperti BPJS Kesehatan atau asuransi swasta) terpasang, Anda wajib langsung mengamankan Asuransi Jiwa Murni (Term Life) untuk melindungi masa depan anak dan pasangan Anda.
Perlu dipahami bahwa asuransi bukanlah produk untuk mencetak keuntungan, melainkan alat manajemen risiko keuangan.
Asuransi Kesehatan adalah proteksi tingkat pertama yang wajib dimiliki oleh setiap individu tanpa terkecuali untuk menjaga tabungan dari tagihan medis.
Sementara Asuransi Jiwa adalah proteksi tingkat kedua yang hukumnya wajib begitu ada orang lain yang menggantungkan hidupnya pada penghasilan bulanan Anda.
(Prabu Warah)