Sementara, yang lain telah menyatakan kekhawatiran tentang berbagai masalah yang terkait dengan pembangunan tanggul, termasuk dampaknya terhadap industri lokal dan lanskap pesisir laut.
Mereka juga mempertimbangkan biaya konstruksi, biaya untuk generasi mendatang, serta dampak negatif terhadap lingkungan alam.
Namun, tanggul laut raksasa tersebut melindungi wilayah timur di Jepang dari gelombang yang menghancurkan banyak kota lainnya.
Selain Iwate, terdapat juga Miyagi dan Fukushima yang mengalami kerusakan serius akibat tsunami yang menerjang di wilayah timur Jepang tersebut.
Siapa yang menyangka, bahwa di antara reruntuhan pantai timur laut Jepang, ada desa kecil yang berdiri tegak seperti sebelumnya setelah bencana tsunami menerjang mereka.
Yaitu Fudai, sebuah pedesaan di Iwate yang bertahan dari terjangan tsunami pada tahun 2011, berkat tembok besar yang sebelumnya dianggap sebagai ide yang ceroboh dari pemerintah Jepang.
Tsunami menghantam pantai berpasir putih di teluk, meninggalkan puing-puing dan pohon tumbang.
Berkat keberadaan Giant Sea Wall Tohoku, tidak ada rumah yang tersapu. Bahkan, rumah-rumah itu hampir tidak terkena air.
Hebatnya Fudai hampir tidak tersentuh, yang berada di balik tanggul laut besar yang berada di pesisir laut wilayah Iwate.
Tercatat, 3.000 penduduk yang tinggal di wilayah pegunungan berhutang nyawa kepada mendiang walikota mereka bernama Kotaku Wamura.
"Butuh banyak biaya. Namun, tanpa itu, Fudai pasti sudah punah," kata nelayan rumput laut bernama Satoshi Kaneko yang tinggal di Fudai.
Peristiwa gempa besar itu membuat usahanya hancur, tetapi merasa bahagia karena keluarga dan rumahnya masih utuh.
"Bagaimanapun Anda melihatnya, efektivitas pintu air dan tanggul laut benar-benar mengesankan," kata seorang Wali Kota Fudai bernama Hiroshi Fukawatari.
Proyek Tanggul Raksasa di Jakarta