reginternasional

SBY Bongkar Presiden Prabowo Subianto Sedang Jalankan Misi 'Dual Track Strategy' untuk Hadapi Tarif Baru Impor Donald Trump

Rabu, 9 April 2025 | 11:43 WIB
Presiden terpilih 2024-2029, Prabowo Subianto diberi lukisan tangan karya Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY saat menghadiri acara silaturahmi dan buka puasa bersama di Hotel St Regis, Jakarta, Rabu 27 Maret 2024. (Kalimantansatu.com/Dok. Prabowo Subianto)

KALIMANTANSATU.COM - Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti strategi Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto untuk menghadapi tarif baru impor yang diterapkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

SBY menilai langkah Prabowo sudah tepat, seraya menyebut pemilihan langkah negosiasi ketimbang retaliasi atau tindakan balasan.

"Kebijakan dan langkah-langkah yang dijalankan oleh pemerintah menghadapi 32 persen tarif yang dikenakan oleh Presiden AS Donald Trump, saya nilai baik dan tepat," ungkap SBY melalui akun Twitter resminya @SBYudhoyono, pada Selasa, 8 April 2025.

"(Prabowo) lebih memilih negosiasi daripada retaliasi (tindakan balasan)," sambungnya.

Baca Juga: Luhut Binsar Pandjaitan Klaim Indonesia Tak Perlu Khawatir Berlebihan Soal Kebijakan Tarif Donald Trump, Mengapa ?

Terkhusus, SBY membongkar Prabowo sedang menjalankan strategi 'dual track strategy'.

Presiden RI ke-6 itu menerangkan, pemerintah Indonesia memilih melakukan komunikasi dengan para pemimpin ASEAN dan mengirimkan tim negosiasi ke Washington DC, Amerika Serikat.

Di sisi lain, SBY menilai ekonomi ASEAN merupakan sandaran dan pasar bersama.

"Ingat, bukan hanya ASEAN telah menjadi 'economic community', tetapi di tengah tantangan berat untuk menembus pasar di banyak negara," tuturnya.

SBY juga menilai perlunya melakukan otoritas moneter dengan otoritas fiskal untuk menjaga dan mengamankan nilai tukar rupiah serta saham-saham di Indonesia.

Oleh sebab itu, SBY mengatakan jika hal itu hanya diserahkan ke mekanisme pasar, maka nilai saham dan rupiah bisa diganjar secara berlebihan.

"Di tengah gonjang ganjing pasar saham dan mata uang, bisa jadi nilai saham dan rupiah kita diganjar secara berlebihan, sehingga menembus batas toleransi psikologis," terang SBY.

"Kita punya banyak pengalaman tentang hal ini di masa lalu," tandasnya.

(*)

Tags

Terkini