Hampir 90 persen orang tua hidup dalam keterbatasan.
Bahkan, Maria menceritakan, ada yang harus menjual tiga kilogram jagung hanya untuk ongkos ojek mengantar anak kembali ke sekolah.
Guru-guru pun kerap menjemput dan mengantar siswa.
Sekolah ini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang pengasuhan.
Asrama memang gratis. Namun kebutuhan di dalamnya tidak sederhana: makan minum, pakaian, sabun, odol, kebutuhan pribadi, hingga peralatan masak dan makan harus dipenuhi dari dana terbatas dan bantuan donatur yang tidak rutin.
“Ya mereka makan sehari tiga kali, tetapi lauk yang seadanya dan porsinya terbatas,” kata Maria.
Keterbatasan asupan itulah yang selama ini memengaruhi energi dan emosi anak-anak, khususnya siswa Down Syndrome.
Ketika tubuh tidak cukup kuat, suasana hati lebih mudah runtuh. Gelisah datang lebih cepat dari jam pulang.
Sekitar tiga minggu terakhir, sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir, perubahan mulai terasa.
“Setelah menerima MBG mereka lebih bersemangat,” ujar Maria. “Mereka lebih bisa bertahan ada dalam kelas”.
Anak-anak lebih antusias datang ke sekolah. Ledakan emosi berkurang.
Waktu duduk di bangku belajar bertambah. Wajah-wajah kecil itu terlihat lebih cerah.
“Setelah ada MBG ini mukanya cerah sekali anak-anak saya,” ujar Maria.
Bagi siswa asrama, dampaknya juga nyata. Dengan makan siang yang sudah terpenuhi, beban konsumsi harian menjadi lebih ringan.