“Makannya itu boleh dibilang kalau di asrama mereka akhirnya cuma makannya malam. Karena memang sangat terbantu dengan MBG ini,” katanya lagi.
Maria, yang berlatar belakang sarjana guru kimia, mengaku awal memimpin sekolah ini pada 2019 penuh tantangan.
“Awal-awal mungkin banyak duka,” katanya. Namun perlahan, “Duka itu bisa berubah menjadi suka”.
Kini ia menyaksikan sendiri bagaimana seporsi makan siang bergizi mampu mengubah lebih dari sekadar rasa kenyang.
Ia menenangkan, menstabilkan, dan memberi ruang bagi anak-anak difabel Sumba, terutama Down Syndrome, untuk belajar dengan lebih utuh, dan tersenyum lebih lama.
(*)