"Beliau sudah bilang ingin istirahat, tidak ingin naik gunung lagi. Maunya tinggal di rumah bareng keluarga," ungkap Syaiful.
Kepergian Mbok Yem bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi ribuan pendaki yang pernah singgah di warungnya.
Warung sederhana miliknya di puncak Lawu bukan hanya tempat beristirahat, tapi juga simbol keteguhan dan keramahan di tengah dinginnya udara pegunungan.
Kini, warung yang sudah puluhan tahun berdiri itu tengah dalam pertimbangan keluarga besar.
Belum ada keputusan resmi apakah warung tersebut akan dilanjutkan oleh generasi berikutnya atau tidak.
"Nanti kami bicarakan bersama keluarga besar. Sekarang fokus dulu untuk melepas kepergian beliau," tambah Syaiful.
Mbok Yem telah menjadi bagian dari sejarah Gunung Lawu.
Sosoknya yang sederhana, hangat, dan penuh semangat menjadikan ia lebih dari sekadar penjaga warung.
(*)
Artikel Terkait
Bukan Hanya di Sumsel, Tren Tabur Benih Pertanian Pakai Drone Ternyata Juga Pernah Viral di Jabar
Momen Presiden Prabowo Subianto Kaget saat Tanam Padi Pakai Drone: Dulu Lamanya 25 Hari, Sekarang Sehari Bisa 25 Hektare
Kini Laris se-Asia Tenggara, Sutradara Ryan Adriandhy Ngaku Pernah Hampir Menyerah saat Bikin Film Animasi Jumbo
Mengungkap Tradisi Pemakaman Tiga Peti Paus Fransiskus: Ada Makna Simbolis dan Proses Sakral yang Menyertainya
Presiden Prabowo Subianto Apresiasi Inisiasi Ustadz Adi Hidayat yang Membuat Gerakan Indonesia Menanam
Inisiasi Gerakan Indonesia Menanam (Gerina), Ustaz Adi Hidayat: Presiden Tidak Bisa Sendirian
Mengenang Apa itu Raminten, Sejarah dan Warisan Budaya Kuliner Sarat Budaya dari Almarhum Hamzah Sulaiman
Ikon Legendaris Yogyakarta Hamzah Sulaiman Meninggal Dunia, Sosok Pemilik House of Raminten yang Lestarikan Budaya dari Masa ke Masa
Setelah Viral Skandal Dugaan Kekerasan, Mantan Pawang Gajah Bongkar Sifat Asli Pimpinan OCI Taman Safari Indonesia
Mbok Yem dan Sejarah Legenda Warung di Puncak Gunung Lawu yang ‘Mahal’